Ekspektasi Rendah

     oleh:

Fadzilah Arifin


     Hidup manusia itu tak luput dalam bimbingan ekspetasi, atau bayang-bayang harapan mendamba hidup yang ideal adalah lazim di kalangan manusia,karena ekspetasi atau harapan itu juga manusia termotivasi melakukan tindakan untuk mencapainya. Sebuah ekspetasi ibarat sebuah tempat yang akan dituju manusia dan tempat itu biasanya harus mewah,megah dan segala-galanya ada di sana. Tapi mengapa harus mewah? Bukankah hidup yang penting bisa survive (bertahan) sampai diri kehabisan fungsi atau mati? Kalaupun tidak mewah apakah tidak ada keterjaminan hidup? Maksud saya wkwk, mengapa harus berekspektasi tinggi untuk menjamin hidup?, Bolehkah berekspektasi rendah namun tetap hidup?

     Sebenarnya menurut saya(penulis) tidak ada yang salah berekspektasi tinggi, seperti petuah lama bung Karno "bermimpi lah setinggi langit, kalau kamu jatuh kamu akan jatuh diantara bintang-bintang." Yes,saya sepakat dengan hal itu, tapi tidak semua orang bermental sangar dan berapi-api seperti bung Karno, ada orang yang terinspirasi kata-kata bung Karno itu namun ia justru tidak jatuh diantara bintang-bintang,bisa jadi malah jatuh diantara comberan wkwks, terdapat blunder disana,dimana orang-orang yang berekspektasi tinggi dan juga optimis seringkali kurang bisa menerima kegagalan atau menerima kenyataan bahwa ia tak bisa mencapai atau sampai pada ekspetasinya yang tinggi itu, itu lazim kan? Wkwks,sehingga keterpurukan pun jadi sahabat karibnya,kecuali orang yang bisa bersyukur walau tak mencapai ekspetasinya yang tinggi itu ia tentulah jatuh diantara bintang-bintang. Karena ia sudah berusaha keras, melewati tahap demi tahap, sampai ia gagal dan ia sadar ia telah berjuang sejauh ini dan ia bisa mengapresiasinya ia termasuk golongan orang yang jatuh diantara bintang-bintang.

    Setelah mengulik perihal ekspetasi tinggi, mari penulis antarkan konsep ekspetasi rendah yang juga bisa digunakan untuk bertahan di kehidupan ini, wkwks, ekspetasi rendah seringkali mendapat labelisasi lemah,rendah, pesimistis,gampang nyerah dan kurang bergairah dll wkwks, tetapi ada juga kok manfaat ekspetasi rendah untuk hidup yang bahagia,maksut ekspetasi rendah disini ialah berekspektasi rendah. Yakni kita mendamba sesuatu yang mudah kita capai,mudah ditempuh,dan mudah terpenuhi, Ekspetasi rendah dapat digunakan untuk memberi standard/ukuran yang rendah pada sebuah kebahagiaan agar mudah dicapai bahkan dilampaui, kita tahu bahwasanya ekspetasi itu hal eksternal, hal diluar kemahakuasaan diri manusia, yang benar-benar dalam  kemahakuasaan diri manusia ialah tindakannya saja atau dirinya saja, usahanya saja dsb, jadi ekspetasi itu sebuah angan-angan tentang arah yang hendak kita tuju. Menurut saya berekspektasilah sesederhana mungkin namun lakukanlah tindakan besar. Itu jauh lebih baik seperti halnya kata Hawking, hehe maaf mengutip sedikit kata bijak Stephen Hawking, "saat manusia menurunkan harapannya ke titik nol, saat itulah manusia mengapresiasi segala yang ia punya" tafsir penulis tentang kata bijak Hawking demikian ialah kita berharap serendah mungkin tapi kita memaksimalkan potensi diri sebaik mungkin sebagai apresiasi yang kita miliki. Ini semacam pengelolaan emosi  saja "berekspektasi rendah  namun usahanya dimaksimalkan agar bisa mencapai ekspetasi rendah itu, syukur dilampaui" sesimpel itu, harapan kita rendah(membumi) tapi tindakan kita seoptimal mungkin (langit), ini juga upaya untuk menyehatkan mentalmu kok wkwkwk, contoh misalnya, mendamba rumah yang megah tentulah sulit mencapainya, kita harus bekerja keras,menabung uang, dsb. tetapi kalau kita mendamba rumah yang biasa-biasa saja misalnya,atau bahkan rumah yang penting bisa berteduh saja misalnya tentulah hal demikian mudah dicapai oleh kita, kita mungkin juga harus bekerja keras wkwk,namun hasil kerja keras tersebut cukuplah mampu untuk membangun rumah seperti itu bahkan melampauinya. Berekspektasi rendah ada baiknya juga kan berarti? Wkwk, Berekspektasilah sekecil mungkin karena mudah bagimu untuk mencapainya, dan ketika tindakanmu melampaui ekspetasimu yang kecil itu kamu akan mendapatkan bonus kebahagiaan yang besar. Contoh lagi mislanya berekspektasilah besok bisa hidup gitu saja dan ketika besok kamu hidup maka niscaya ekspetasimu terpenuhi dan ketika dalam hidup itu kamu mendapatkan keberuntungan-kebruntungan maka kamu akan lebih lagi bahagianya, sesimpel itu loh menghargai hidup. Atau contoh lain misalnya dalam jodoh dan pernikahan, saran saya jangan berekspektasi tinggi soal jodoh, jodoh harus smart,cantik/ganteng,kaya, atau sudah privilleg. Tapi berekspektasilah yang penting mau dulu sama kamu wkwk,percuma kan kalo dia memiliki kesempurnaan atau kriteria kesempurnaan menurutmu namun ia gak mencintaimu,dengan yang penting nikah dengan orang yang mencintaimu juga mudah bagimu untuk mencapai ekspetasimu wkwk, "masak iya se mblawosse awakmu gak ana sing tertarik Karo koe, dunya Iki gede lur wkwk" dan ketika sudah menikah berekspektasilah rendah lagi, misalnya dalam rumah tangga nanti pasanganmu bakalan nganyeli, dan ketika ekspetasimu salah bahwa kenyataan pasanganmu itu baik maka terlampaui lah ekspetasimu yang rendah itu, dan tersesakilah batinmu oleh bonus-bonus kebahagiaan itu tadi, wkwks terakhir kalinya penulis ingin memberikan contoh lain yang konkret, seperti tulisan ini penulis atau saya berekspektasi rendah seperti tulisan saya bisa rampung ini nanti saja penulis bisa bahagia, ekspetasi saya lainya ialah saya berencana mendelegasikan tulisan saya ini nanti ke blog npl agar bisa dimuat, dan kalau tulisan saya ini nanti dimuat saya sudah bahagia. Itu saja sih wkwk, perkara dibaca atau tidak itu bukan ekspetasi saya, tapi kalo ada yang baca berarti ekspetasi saya terlampaui dan saya mendapat bonus kebahagiaan, lebih-lebih kalau ada yang memberi komentar, membagikannya, itu semua bukan ekspetasi saya, tapi kalau itu semua terjadi maka saya akan lebih bahagia karena disisi lain ekspetasi saya terpenuhi ekspetasi saya juga terlampaui wkwk. sekian saya rampungkan tulisan saya ini dan alhamdullilah ekspetasi saya terpenuhi wkwk, salam hormat.

Komentar

  1. Manusia yang memiliki daya diri yang lemah ketika melakukan tindakan yang amat sangat berat baginya, terhadap yang sudah pernah terjadi tentang dirinya. Cinta yang ia miliki itu hanya sebatas batang kayu yang bisa mudah rapuh ketika mengecewakan atas kelakuan itu sendiri,jika manusia tidak memiliki daya untuk membuat sebuah ruang cinta dengan apa yang telah membimbing diri untuk menemukan tentangnya. Manusia yang lemah itu dayanya sudah tak berguna dalam mencapai tujuan,tangan kanan dan kiri pun hanya menggaih ranting pohon yang sudah bisa digaet. Karena semua itu bisa dicapai jika mau berusaha dalam kehidupan,maka jadilah manusia yang bisa menemukan diri sendiri yang tak pernah telat dalam mempersiapkan dosa yang di alaminya,jangan terlalu berharap terhadap dunia tapi akhiratmu telah damba yang sudah terhampar di pulau terkecil dalam pelupuk denyut yang makin punah. Selamat membaca yah

    BalasHapus
  2. Bahagia itu sederhana.. jangan di buat susah.. smile

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebahagiaan Dalam Keabadian

Saya Membaca, Tapi . . . .