Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur


Review Novel Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur
“Upaya Menelanjangi Manusia dari Tabir Moral dan Agama”

Sang Pena Tajam

    Bagi saya setelah selesai menyesap salah satu karya Muhidin M Dahlan, tiada kata lain yang dapat mendeskripsikan penulis dengan kata "pena tajam". Lewat rangkaian kata, dan pemilihan diksi yang berani, Muhidin berhasil merobek-robek nurani kita dengan pena tajam nya. Berbekal kesadaran dan pencerahan yang diperolehnya, penulis mulai melakukan otokritik. Apa yang dilakukan penulis lewat bukunya sejatinya adalah kritik sosial. Namun, Muhidin tidak menyatakan kritiknya dengan beramai-ramai demonstrasi ke jalan. Dia memanfaatkan kekuatan dan ketajaman pena sebagai medium penggugah kesadaran dan penyebar gagasanya. Muhidin menggugat dengan sastra, salah satu cara yang elegan dalam berpolemik.

    Bila anda mulai bosan dan membusuk berandai-andai dengan kisah-kisah percintaan, novel "Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur" sangat recomended untuk anda baca. Secara singkat novel ini menceritakan tokoh utama bernama Kiran, seorang wanita aktivis Islam yang pada akhirnya beralih menjadi pelacur. Banyak hal yang dapat kita ambil dari perjalanan kiran. Buku ini dapat membantu anda memahami realita dunia yang tak selalu hitam putih. Rasanya tak perlu banyak-banyak menjelaskan tentang si Kiran, selamat membaca.  

Menyoal Tuhan, Tubuh dan Tabu

    Dalam novel ini, kita akan diajak mempersoalkan kembali tentang Tuhan, tubuh, dan tabu. Tuhan sebagaimana yang kita Imani bersama adalah dzat Esa yang Maha Kuasa. Maka, menyangsikan Kebenaran, Ke Esa-an, bahkan eksistensi Tuhan itu sendiri dapat menyeret kita kepada hilangnya kelezatan Iman dari hati kita. Namun, bagaimana bila Tuhan yang kita bincangkan bukan Tuhan berupa dzat yang Maha Esa dan Kuasa. Tapi Tuhan yang dicitrakan manusia dalam pikiran dan hatinya, yang kemudian melahirkan doktrin-doktrin kelompok, ideologi, kehormatan atau apapun yang mengatas namakan agama?.

    Penulis mengajak kita untuk merenungi kembali apa yang kita percaya. Bagaimana bila kita dikecewakan oleh kelompok, atau sekte agama tertentu karena ajaranya tak sesuai dengan nilai-nilai moral kita?. Apakah kita akan menyalahkan Tuhan atau menyalahkan  kelompok tersebut?. Secara singkat kita pasti menjawab menyalahkan kelompok yang ajaranya menyimpang dengan keyakinan atau  nilai moral kita. Namun bagaimana bila kita sudah memberikan jiwa raga kita dan berkeyakinan penuh berjuang dalam suatu kelompok atau sekte keagamaan, lalu kita dikhianati, dikecewakan secara hebat?. Masih bisakah difase seperti itu kita masih percaya Tuhan?

    Secara apik, Muhidin menggambarkan kondisi dikecewakan yang begitu mendalam pada seseorang oleh agama, dan banyak nilai-nilai moral yang dia yakini dalam hidupnya. Dan akhirnya jatuh sejatuh-jatuhnya, remuk seremuk-remuknya. Hingga pembaca dibawa menuju pengalaman emosional yang begitu mendalam ketika mengikuti perjalanan sang tokoh utama. Beberapa pembaca buku ini yang saya temui bereaksi bahwa apa yang digambarkan penulis sangat berbahaya bagi Iman seseorang. Saya pribadi beranggapan gambaran kekecewaan ini membantu kita mengkonstruksi ulang kepercayaan kita kepada Tuhan. Manakah yang benar? Manakah yang salah?. Bagi saya pengalaman batin setelah membaca karya sastra tak bisa disalahkan. Itu adalah hal paling subjektif yang berhubungan dengan kepakaan emosional, pengalaman, dan wawasan yang dimiliki oleh setiap orang. Maka, sekali lagi dengan membaca buku ini kita diajak merekonstruksi kembali pemahaman kita tentang kepercayaan,  dan Tuhan. Apakah anda akan mengalami hal tersebut atau tidak, tentu kembali kepada pribadi kita masing-masing. 

    Tubuh adalah salah satu anugrah yang diberikan Tuhan kepada kita. Tugas kita sebagai penerima anugrah tersebut adalah semaksimal mungkin menggunakanya untuk kebermanfaatan dan ibadah kepada Tuhan. Artinya, kita tak memiliki otoritas sepenuhnya pada tubuh kita. Kita bebas bergerak, namun segala laku kita tentu akan dipertanggung jawabkan. Lalu, bagaimana bila otoritas tubuh kita dipersempit lagi oleh stigma-stigma masyarakat?. Anggapan wanita adalah manusia kelas kedua setelah laki-laki, hingga peran di muka publik di anggap tabu. Lalu wanita dianggap sebagai sumber dosa dan stigma-stigma lain. 

    Realitanya, tidak semua nilai moral dalam masyarakat digunakan untuk hal-hal baik semata. Seringkali nilai-nilai moral, ada untuk melindungi kemapanan kelompok-kelompok tertentu. Agar ada yang selalu bercitra baik, maka harus ada yang bercitra buruk. Agar selalu ada yang bermandikan cahaya harus ada mereka yang berkubang kegelapan. Maka hal-hal tabu muncul dalam masyarakat, untuk tetap memberi pagar pembatas antara si baik dan si buruk, antara terang dan gelap. Bagaimana bila si baik ternyata melakukan hal buruk tapi karena citra baiknya dia tetap ada di singgasana-nya?, bagaimana bila si buruk melakukan hal baik tapi karena citra buruk-nya kebaikanya tak pernah diakui?.

    Sebagian besar kita hidup dengan kacamata hitam putih di dunia penuh warna. Tak selalu sesuatu seuluruhnya putih atau hitam. Selalu ada area abu-abu yang dalam lini kehidupan kita. Sayangnya kita  di didik baik di sekolah atau masyarakat untuk selalu memandang dunia secara hitam putih. Kalau tidak benar ya salah, kalau tidak haram ya halal, kalau bukan kelompok ku ya salah, kiranya begitu. Buku ini datang membawa kritik keras bagi para pemakai kacamata hitam putih. Agar mereka sesekali mau membuka kacamatanya lalu melihat bahwa banyak hal-hal baik yang begitu saja mereka cap buruk atau hal-hal buruk yang begitu saja dicap baik. Buku ini juga membawa kritik bago kaum-kaum moralis, agamis yang buta akan realita sosial. Berpenampilan langit, namun tak pernah peduli akan bumi yang merak pijak.

Inkonsistensi manusia adalah keindahan sekaligus kebusukan

    Banyak rakyat menderita, karena inkonsistensi janji-janji pemerintah saat kampanye dengan realisasi ketika menjabat, atau visi-visi agung parpol yang selalu kontra dengan tindakan busuk para politisi. Alam menjerit, ketika ucapan manusia yang mengaku sebagai perawat bumi, tapi tetap melakukan eksploitasi. Melestarikan di suatu masa agar bisa dieksploitasi lebih besar di masa yang akan datang. Mengumandangkan kepedulian terhadap lingkungan, namun masih menyampah disana sini. Kaum adat, orang-orang pedalaman, masyarakat marjinal di kota terbodohi oleh visi negara untuk mensejahterakan mereka akibat inkonsistensi tujuan negara dengan kebijakan yang diambil pejabat pemerintahan. 

    Bahkan wanita menderita akibat inkonsistensi manusia-manusia pemuja moral dan agama yang didepan mencitrakan diri sebaik-baiknya namun dibelakang menganggap wanita selalu ada dibawahnya. Buku, ini secara vulgar mengupas bagaimana wanita hanyalah alat bagi kaum pria. Tak usah jauh-jauh membayangkan germo-germo yang menjual tubuh wanita demi keuntungan pribadi. Bahkan para aktivis-aktivis agama, feminis, perlawanan sekalipun pada akhirnya tak mampu mempertahankan idealis dan visi-visi besar mereka soal kemuliaan wanita. Saat mereka harus berhadapan dengan naluri hewaniyah nya dengan lawan jenis. Kita benar-benar makhluk hipokrit, selalu bersembunyi dibalik tabir citra baik, dan selalu inkonsisten baik dari pikiran, laku, hingga ucapan kita. Namun bukanlah inkonsistensi manusia adalah keindahan nyata yang tetap menghias diri-diri manusia di tatanan masyarakat, sekaligus kebusukan yang selalu mereka tutupi. Bukankah inkonsistensi manusia juga kelebihan yang luar biasa sekaligus kelemahan? .


Daftar Pustaka
M. Dahlan, Muhidin. 2003. Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur. Yogyakarta : ScriPtaManent 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ekspektasi Rendah

Kebahagiaan Dalam Keabadian

Saya Membaca, Tapi . . . .