Mengkudeta Hidup yang Carut-Marut
Oleh: Fadzilah Arifin
Kehidupan ini pekat sekali dengan apa yang disebut carut-marut, kondisi yang serba objektif atau berubah-ubah seringkali membuat sekawanan manusia gelisah dan gundah sehingga mengobrak-abrik tata tertib batin, manusia seringkali berasumsi kebahagiaan itu haruslah sesuai dengan ekspetasinya atau glamornya pengharapan bak seperti surga yang harus serba keturutan dan dalam keteraturan, manusia selalu di iming-imingi dengan cita-cita untuk eksis lebih dan denganya manusia menciptakan tekanan baru, karena yang melakukan itu tidak hanya satu manusia melainkan banyak dan susah di data jumlahnya sehingga ketersidaan job yang di inginkan sangatlah terbatas dan memaksa manusia untuk mau tidak mau harus berkompetisi.
hidup terus bergerak dan tumbuh setiap harinya ia beroprasi sedemikian rapinya, lalu pertanyaannya siapakah yang menghadirkan carut-marutnya kehidupan itu sendiri? bukankah manusia itu sendiri, yang mendelegasikan keinginannya yang di dalamnya di endapkan arogansi ekspetasi? Keinginan-keinginan itu akan selalu bertabrakan dan berkompetisi sehingga yang kalah akan memiliki potensi kekecewaan serasa dunia tidak sedang baik atau berkeadilan, manusia sering di penjara dengan rasa iri dengki dan ia kerap melupa apa yang telah ia dapatkan dan syukur pun serasa di tenggelamkan, hidup dalam kondisi carut-marut itu tidak enak manusia di tekan dengan beberapa hal, ia merasa kecewa dengan keadaan, ia merasa terhakimi kenapa keadaan demikian, padahal sistematika hidup itu layaknya hukum matematis setiap rumusnya selalu memiliki alasan logis tetapi pikiran buntu manusia lah yang menutupi keharmonisan alam beroprasi ini. Hidup juga seperti matematika semakin naik kelas semakin rumit rumusnya semakin bertambah dewasa atau cakap semakin rumit permasalahanya karena disesuaikan dengan porsi kenikmatanya. Secarut-marutnya hidup sejatinya adalah getaran kenikmatan yang perlu dikulik manusia untuk bisa dinikmati tantanganya dan setiap kehidupan ada sajian rumusanya tidak semuanya bisa diselesaikan sesuai keingginan pada porsi tertentu ada yang hanya butuh penerimaan, ada yang bisa di selesaikan dengan usaha, ada yang hanya bisa dengan bersabar dan bersyukur saja, karena hidup adalah seni memahami sistem rumus metematis alam yang bekerja sedemikian rapinya.
Konsep Dikotomi
Hidup itu terdiri dari beberapa ornamen yang menyusun kebahagiaan dan salah satu yang fundamental adalah sesuatu yang berasal dari diri sendiri atau reaksi atau juga kekuasaan utuh terhadap diri sendiri. dan ornamen-ornamen yang lain menempati posisi pada hal yang sifatnya eksternarnal, hematnya hidup itu disusun atas hal yang bersifat intenal dan hal yang bersifat eksternal. itulah yag kemudian yang disebut sebagai konsep dikotomi. mengandaikan kebahagiaan itu sepenuhnya bergantung pada diri sendiri, itu maksudnya bahwa kebahagiaan itu berurusan dengan hal-hal yang berada di bawah kendali diri sendiri. Kebahagiaan itu bergantung pada pikiran diri sendiri, keputusan sendiri, hasrat sendiri, dan apa-apa saja yang sepenuhnya milik diri sendiri. Hanya di ranah inilah manusia memiliki kemerdekaan absolut. Menggantungkan kebahagiaan pada hal-hal eksternal hanya akan menimbulkan kecewa lantaran membuat manusia tidak merdeka serta tidak memiliki jaminan apa-apa. Hal-hal eksternal yang luput dari kemampuan diri sendiri cukuplah untuk diterima saja, bukan untuk dihasrati ataupun ditolak mati-matian.
Kehidupan itu terus beroprasi sedemikian rapi tak mempedulikan posisi manusia dan tak mempedulikan kondisi atau imbasnya akan bagaimana terhadap keberlangsungan kebahagian umat manusia, ia berotasi sedemikian adanya dan akan terus berbah-ubah atau objektif. pada dasarnya manusia tidak benar-benar omnipoten atau berkuasa penuh mengatur rotasi kehidupan sesuai keinginnanya atau kehendak ekspetasinya karena itu semua akan terbatalkan juga dengan kekuasaan yang lebih besar seperti kekuasaan alam, kekuasaan keadilan, dan juga kekuasaan Tuhan. sehingga dunia itu benar-benar berada di wilayah luar dari kehidupan manusia. sedangkan wilayah yang benar-benar otoritas manusia itu seperti pikiran,tubuh dan juga reaksi terhadap alam atau keadaan yang mau tidak mau akan dikonsusmi oleh umat manusia.
Membahasakan pengkudetaan terhadap hidup rasa - rasanya telah familiar di telinga para pembaca dan gandrung-gandrungnya dituliskan oleh para penulis mahir tentang konsep “AKU” yang kemudian ia tuangkan pada platform media social pribadinnya masing-masing. kalimat–kalimat itu agaknya mendeklarasikan subjek dirinya untuk berani eksis menjadi diri sendiri yang benar–benar dirasa sejati terhadap kuasa penuh dirinya tentang relasi dari reaksi, sederhananya ia merdeka dalam koridor interpretasi atas kebahagiaan versi dirinya sendiri walaupun keadaan fisiknya tak mencerminkan parameter kebahagiaan yang disematkan oleh orang-orang, walaupun ia tidak sukses, walaupun ia tidak kaya, walaupun ia tidak sederhana, walaupun ia tidak minimalis, tetapi dengannya ia berani mengambil resiko terhadap kebahagiaan tersebut, dan itu artinya ia telah mengkudeta sesuatu yang lazim disepakati oleh orang-orang mengenai konsep kebahagian yang di glontorkan oleh orang-orang yang menjadi bentuk kesepakatan atau parameter, dan dengannya itu ia mengkonfirmasi untuk mengkudeta itu semua dan berani mengambil resiko terhadapnya.
Kebebasan bukanlah semata soal status tidak diperbudak, dan bukan juga tiadanya kekangan dalam menjalankan aktivitas fisik, kebebasan juga berarti ketidaktergantungan pada hal-hal eksternal. Itulah mengapa manusia perlu sangat menekankan untuk tidak melekatkan diri pada hal-hal eksternal, entah itu harta duniawi, kesuksesan profesi, maupun sandaran hati. Hal-hal eksternal itu tidak berada dalam kendali diri sendiri, dan jika manusia melekatkan hasrat padanya, niscaya cepat atau lambat akan berakhir pada rasa kecewa. Dengan menghasrati hal-hal eksternal, orang justru tidak akan bahagia, tidak akan mengalami serta tidak akan merdeka. Kembali pada pokok pertama sebelumnya, kebahagiaan adalah urusan diri sendiri. Kebahagiaan dengan ini berarti bebas dari ketergantungan dan keterikatan terhadap hal-hal eksternal. Apa yang untuk dihasrati dan dijauhi semuanya berfokus pada apa yang ada di bawah kendali. Hanya dengan mengolah pikiran, hasrat, dan putusan, kebahagiaan dapat didapatkan.
Simpulan
Hidup adalah kuasa terhadap diri sendiri mengenai sesuatu yang eksternal biarkanlah berlalu dan jadikanlah ia sebagai perangkat untuk bisa bahagia tetapi tetap dalam deklarasi diri sendiri. analogi mata elang ia cukup mementingkan kebutuhannya saja dan sembari terbang di udara melihat carut-marutnya di bawah tanpa terlibat disana, ia cukup terbang dan mengamati betapa tidak jelasnya kondisi di bawah dan itu bukan wilayah yang bisa di kuasai oleh elang. hematnya adalah kuasai sesuatu yang hanya ada di lingkar pengaruh dan yang diluar diri cukup ajukan interpretasi untuk selalu di maknai sebagi kejadian yang membahagiakan.
Mengkudeta yang hendak di sajikan disini adalah mengkudeta dari belenggu penindasan pikiran, bahwasanya segala sesautu itu bisa di bebaskan dengan reaksi manusia memandang segala sesatu tersebut, tidak serta merta segala sesuatu itu harus di penjara atas dalih kesepakatan saja, misal ada sesuatu buruk menimpa dan siklusnya pasti bersedih dengannya karena itu adalah kelaziman dan itulah yang hendak dikudeta itu bisa di bebaskan reaksinya dengan reaksi bahagia barangkali sesuatu yang buruk itu bisa menjadi pembelajaran yang berarti di masa yang akan datang dan itulah kudeta yang paling baik menurut penulis.
Kudeta yang hendak disajikan penulis juga berkenaan dengan mengkudeta sesuatu yang hadir di luar manusia atau sifatnya eksternal, bahwa sesuatu yang eksternal (kesuksesan, jabatan, kekayaan, atau sifatnya kebendaan) itu tidak menjamin kebahagiaan, diri sendirilah yang akan menjaminnya, maka jangan mau terbelenggu dengan parameter-parameter kebahagiaan dari luar lepaskan itu semua dan ciptakan kebahagiaan dengan versi yang merdeka sendiri.
Setidaknya biarkanlah mereka ber asumsi dan berkata-kata
Tetapi biarkan hak sepenuhnya hidup kita yang menata
Biarkan hal di luar kita bersengketa
Dan kedepankan diri sendiri untuk mengatasi problematika dengan merdeka
Referensi
Massimo Pigliucci. 2017. How to be a Stoic: Ancient Wisdom for Modern Living.London: Penguin.
Long, Epictetus. 27, 29. Bandingkan Epiktetus. The Discourses.
Komentar
Posting Komentar