Semua Berhak Mencintai dan Dicintai (Mendobrak ketimpangan sosial lewat dangdut koplo)

 Oleh : Atha Zha Zha Zaky

Kabeh iki mergo kahanan

Ben iso nyukupi kebutuhan

Aku kerjo isuk sore nanging kowe sambat wae

Jaremu balungan kere

Beberapa hari yang lalu saya berkesampatan melakukan perjalanan dari semarang menuju blora via purwodadi. Dengan kondisi jalan yang luar biasa (tentu jauh dari pembangunan infrastruktur besar-besaran yang dibanggakan pemerintah), kami melaju membelah jalan-jalan berlubang ditemani syahdunya rintik hujan dan lantunan dangdut koplo di dalam mobil.  Selama 8 jam perjalanan diiringi lagu dangdut koplo, membuat saya sadar akan satu hal “selain menceritakan tentang cinta, lirik-lirik dangdut koplo juga menyuarakan kritik keras terhadap ketimpangan sosial”. 

Tak bisa dipungkiri dangdut koplo merupakan produk budaya yang berasal dari masyarakat bawah.  Saya awalnya sangsi, apakah lagu-lagu semacam ini punya makna yang dalam dan membawa keresahan di setiap liriknya. Seperti lagu-lagu rock dari band Marjinal misalnya yang kental kritik sosial, atau beberapa lagu rap karangan Jogja Hiphop Foudation. Ternyata makin kesini saya sadar, dangdut koplo membersamai masyarakat bawah dan menyuarakan kegelisahan-kegelisahan mereka tanpa harus menggunakan diksi-diksi puitis atau intelek, yang sulit difahami masyarakat bawah.  Seperti lirik lagu diatas, menyuarakan keresahan seseorang yang sudah berusaha maksimal untuk mencukupi kebutuhan tambatan hati namun tak dihargai karena status sosialnya yang rendah.

Cerita-cerita yang ingin digambarkan lewat lirik-lirik musik koplo, biasanya mengambil tema yang lekat dengan keseharian masyarakat menengah kebawah, sulitnya mencari kerja, kurangnya keharmonisan rumah tangga akibat kemiskinan, hutang, tetangga yang menyebalkan, asmara yang tak tersampaikan karena perbedaan kasta sosial, kekasih hati ditikung orang yang lebih kaya, gagal nikah karena mertua berharap menantu yang kaya, dsb. Walau kemudian lagu-lagu ini dibawakan dengan gembira dan semangat lewat dentuman-dentuman kendang, disertai jogetan pendengarnya. Tapi, saya yakin pendengar yang masalah hidupnya relate dengan lagu yang didengar akan meringis pilu, ya dengan tetap berjoget tentunya. Ketika hidup penuh ironi dan kita tak bisa lagi melakukan apa-apa, menertawakan dan merayakan ironi hidup kita menjadi jalan menjaga kewarasan diri kita


Semua berhak mencitai

Menurut survei International NGO Forum on Indonesian Development (INFID), Indeks Ketimpangan Sosial Indonesia pada 2018 berada pada skor 6. Angka ini meningkat sebesar 0,4 dibandingkan survei serupa pada 2017. Indeks Ketimpangan Sosial adalah indeks yang mengukur persepsi publik berapa jumlah ranah yang timpang. Makin besar skornya, berarti makin timpang. Ketimpangan sosial disini bisa mencakup banyak hal, pendidikan, pekerjaan, penghasilan, tempat tinggal, dll. Dan salah satunya  (menurut saya) adalah diskriminasi dalam percintaan. Urusan cinta dan mencintai adalah hak semua orang, bahkan untuk urusan menikah dan berkeluarga sebagai hal yang diharapkan dari hubungan saling mencintai, menjadi Hak dasar manusia yang dilindungi oleh undang-undang.

Namun, memang cinta seringkali tak terbalas. Bukan hanya karena tak ada keterkaitan rasa antara satu sama lain, tapi karena strata sosial yang berbeda. Hal ini real terjadi di kehidupan kita sehari-hari. Laki-laki ditolak karena keluarga perempuan lebih kaya atau sebaliknya, ditolak karena calon mertua berharap menantu yang berpenghasilan tinggi dll. Dan dangdut koplo menyuarakan hal-hal ini, dari lagu balungan kere, aku sing lungo, wong sepele, cerito loro dan ratusan judul lagu yang lain. Memang benar kecukupan financial merupakan syarat penting dalam pernikahan, tapi tuntutan untuk memiliki jauh melebihi dari pada kemampuan, pandangan merendahkan akibat strata sosial yang lebih rendah, serta diskriminasi yang ada, merupakan masalah sosial akibat jurang ketimpangan yang menganga lebar.

Di tengah gegap gempita pembangunan besar-besaran yang didengungkan pemerintah, di antara janji-janji manis bagi rakyat miskin yang disampaikan calon-calon penguasa, di bawah peraturan dan regulasi yang semakin mencekik rakyat. Masyarakat miskin jawa memilih tidak diam, tak sedikit dari mereka yang melawan dengan aksi. Menghadang alat-alat berat yang hendak merebut lahan hidup mereka. Namun, banyak pula yang menyuarakan keresahan mereka di acara-acara hajatan, cakruk-cakruk di pinggir jalan, di sawah-sawah, di perkebunan, dan tempat serta even-even lain yang menjadi tempat berkumpulnya warga. Bukan lagi dengan demo, tidak lagi dengan aksi namun dengan dangdut koplo yang alunan-nya kita jogeti bersama. Butuh, kepekaan yang lebih agar menyadari bahwa kita tak hanya menikmati sebuah lagu. Namun menertawakan dan merayakan ironi hidup kita bersama di tengah kemiskinan, diskriminasi sosial, dan konflik agraria. Pada akhirnya masyarakat sama sekali tak diam, mereka merawat keresahan-nya dalam kesenian lokal bernama dangdut koplo, agar kita tak lupa masih banyak hal yang harus diperjuangkan.

Abadi perjuangan, aselolee  jozz !!!!!!!

 

 

Daftar Pustaka :

https://www.tabloidbintang.com/lirik-lagu/read/1136/lirik-lagu-balungan-kere-nella-kharisma

https://www.infid.org/publication/read/laporan-survei-ketimpangan-sosial-menurut-persepsi-warga-2017

https://www.mongabay.co.id/2019/12/31/catatan-akhir-tahun-reforma-agraria-masih-jauh-dari-harapan/

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ekspektasi Rendah

Kebahagiaan Dalam Keabadian

Saya Membaca, Tapi . . . .