Agama Warisan

 


Ba’da hamdan wa syukron lillah wa sholawatu wa as salam ala rosulillah, mungkin sudah banyak para pakar yang menulis bahasan ini, baik yang mencoba membantah ataupun yang kekeh menuduh. Tulisan ini bukan untuk nimbrung dalam tulisan para pakar tersebut, tapi hanya sebagai refleksi penulis terhadap diskusi mengalir pada Rabu sore, 17 februaru 2021, setelah bedah buku “MITOS Gerak Kembali Yang Abadi, Kosmos Dan Sejarah” karya Mircea Eliade oleh NPL (Nalar Pojok Literasi) yang berlangsung cukup seru.

Diskusi ini dimulai ketika saya menjelaskan bahwa kemampuan berlogika seseorang (Muslim) adalah taufik dari Allah, dan taufik itu diberikan karena ketaatan seseorang kepada-Nya, jadi seseorang hanya perlu taat untuk mengaktivkan logikanya sebagai mana firman Allah “Wataqullah wa Yuallimukumullah”. Salah seorang teman menimpali “Ketaatan itu adalah warisan, karena orang tuanya taat maka anaknya juga taat’, teman yang lain juga berkata sepakat “Bener juga lo, ketaatan itu warisan”. Diskusi ini tidak berlangsung lama, karena adzan maghrib sudah berkumandang, dan selepas sholat maghrib kami harus beranjak pada aktivitas masing-masing.

INDOKTRINASI

Dinegara yang penduduknya mayoritas muslim, adalah hal yang biasa dimana orang tua mengajarkan islam kepada anaknya. Mengadzani ketika bayi baru lahir, menitipkan anaknya kepada guru-guru ngaji agar mahir atau minimal bisa membaca Al Qur’an, sholat, hafal surat-surat pendek dan doa-doa pilihan. Layaknya orang awam mereka tidak banyak hafal dalil baik ayat maupun hadis, mereka hanya tau bahwa sholat lima waktu dan puasa romadhon plus zakat firah itu wajib, amalan ini hukumnya sunnah dan hal seperti itu haram. Memarahi anaknya bila tidak pergi ke langgar mengaji, ketahuan meneguk air ketika romadhon, dan lain halnya. Apakah ini yang disebut indoktrinasi?

Cara beribadah yang dari zaman sahabat hingga hari ini (dengan beberapa madzhabnya) selalu sama, sholat dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam tanpa tertinggal ruku dan sujudnya. Puasa yang selalu dimulai dari waktu fajar hingga terbenam matahari, lalu haji yang selalu dilakukan di Makkah dengan mengelilingi ka’bah, mencium hajar aswad, berlari shofa-mawah dan melempah jumroh. Ritual-ritual yang dianggap primitif dan irasional tapi masih tetap dilestarikan. Apakah ini juga disebut sebuah indoktrinasi?

TENTANG AQIDAH

Mari kita lebih duluh memahami perbedaan antara aqidah dan ibadah, agar kita faham mana dalil ibadah dan mana dalil aqidah, dan tidak menabrakan dalil satu dengan yang lainnya. Mari kita mulai denga aqidah, aqidah adalah pondasi dalam kita berislam, tempat tegak sendi-sendi islam lainnya. Pelajaran yang membahas materi ini disebut “Tauhid” yang artinya mengesakan Allah, hanya menjadikan Allah sebagai satu-satunya Rabb yang berhak untuk disembah.

Allah berfirman dalam surat Muhammad ayat 19 “Fa’lam Annahu Laillaha Illallah” yang artinya “Maka ketahuilah, bahwa tidak ada Illah yang berhak disembah salain Allah”. kata “Fa’lam” adalah sebuah perintah agar lebih dulu memiliki ilmu tentang keilahian Allah sebelum bersyahadat. Kalu kita cermati ayat-ayat yang turun pada awal masa dakwah Rosulullah adalah penjelasan tentang Allah, salah satunya adalah ayat yang pertama kali turun yaitu surat al-Alaq diayat yang pertama “Iqra’ Bismi-rabbika-alladzi Kholak kata yang bercetak tebal menjelaskan bahwa Allah adalah yang maha menciptakan.

Dalam aqidah alasan karena orang tua atau nenek moyang tidaklah diterima, seperti ungkapan “saya islam karena keluarga saya islam” adalah tertolak, karena menyalahai surat Muhammad ayat 19. Ungakapan tersebut adalah ungkapan taqlid dimana islam mengutuk perbuatan tersebut, seperti yang diceritakan dalam surat al-Baqoroh ayat 170 ketika orang-orang musyrik diajak untuk mengikuti apa yang telah diturunkan kepada Rosul-Nya (Tauhid) mereka menjawab “Kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari nenek moyang kami”. ISLAM MENGUTUK PERBUATAN TAKLID!.

DALAM IBADAH

Ibadah adalah segala sesuatu/perbuatan yang dicintai dan diridhoi Allah, cara kita mengetahu sesuatu/perbuatan tersebut dicintai dan diridhoi Allah adalah dengan mengikuti petunjuk Rosulullah. Pelajaran yang membahas materi ini disebut “Fiqih”, membahas tentang hukum-hukum syar’i dengan dalil-dalil yang terperinci. Fiqih ini bersifat praktis, menjelaskan tatacara beribadah sesuai dengan yang dilakukan oleh Rosulullah. Yang perlu difahami adalah dalam hal ini tidak semua orang harus mengetahui dalil-dalil secara rinci, cukup para ulama yang mengetahuinya dan umat tinggal mengikutinya. Seperti imam madzhab yang empat, maka umat tinggal mengatakan ini pendapat Imam Syafi’i, ini pendapat Imam Malik dan yang lainnya.

Berbeda dengan aqidah, dalam fiqih berdalil dengan apa yang dilakukan orang tua, guru, atau orang lain adalah boleh, seperti ungkapan “Saya mengeraskan bacaan bismillah saat membaca surat al-Fatihah dalam sholat karena ayah saya melakukan itu”. Hal ini tidak termasuk dalam taklid, karena orang yang ditiru dan perbuatanya harus terkonfirmasi oleh sanad yang shoih. Imam Abdullah bin Mubarok berkata “Sanad itu bagian dari agama. Kalo bukan karena sanad, maka siapun bisa berkata apa yang ia kehenaki (seenaknya)”.

BUKAN AGAMA WARISAN

Yang dimaksud dengan agama warisan bahwa ajaran-ajaran agama tersebut bersifat doktrin, dalam hal ini islam. Orang tua yang beragama islam akan memaksa anaknya untuk juga islam, ini adalah tuduhannya. Perlu difahami bahwa setiap bayi yang terlahir adalah dalam keadaan muslim, baik dari rahim seorang ibu yang muslimah ataupun kafir. Orang tua memiliki kewajiban untuk mengenalkan anaknya kepada Allah, mengingatkan akan ikrar yang pernah diucapkan sewaktu masih di dalam rahim. Orang tua wajib mengenalkan anak pada Allah dengan ayat kauniyah dan qouliyah-Nya, melalu alam semsesta dan kalam-Nya yang mulia. Sampai anak itu memiliki pemahaman yang kuat, untuk sebuah alasan kenapa ia memilih Allah sebagai Rabbnya.

Tatacara ibadah yang tidak pernah berubah dari dulu samapai sekarang adalah bukti luar biasanya islam. Penjagaan terhadap suatu ilmu setelah berabad-abad lamanya, dan keabsahannya masih bisa dilacak hingga sumbernya. Metode sanad bukanlah metode yang mudah, butuh kecerdasan, ketelitian, dan kuatnya hafalan untuk melakukannya. Tidak ada agama ataupun cabang ilmu lain yang memiliki metode seperti ini. Ketika cabang ilmu lain hanya mampu mengira, islam mampu membuktikannya. Ketika cabang ilmu lain bisa membuktikannya, islam jauh sebelum itu telah menyebutkannya.

و اتقوا الله و يعلمكم الله

BERTAQWALAH KEPADA ALLAH, MAKA ALLAH AKAN MENGANUGRAHKAN ILMU KEPADAMU

REFRENSI:

Shaleh bin Fauzan Al Fauzan. Kittab Tauhid Jilid 1-3. Jakarta Timur; Ummul Qura, Maret 2014.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ekspektasi Rendah

Kebahagiaan Dalam Keabadian

Saya Membaca, Tapi . . . .