Manusia-Manusia Teknis
Masyarakat Jawa dari dulu, kebanyakan agraris.
Karena hidup bertani banyak watu selo nya. Sembari menunggu mereka
merenung, berbudaya lalu menghasilkan buah-buah pemikiran yang filosofis
(serat, tembang, sajak dll) juga seni budaya.
(Dr Fahrudin Faiz on Putcast)
Saya paling benci sama manusia-manusia kota yang
berbondong-bondong kembali ke sawah. Bikin rumah kecil yang instragamable.
Seolah-olah mereka lari dari hiruk pikuknya kota. Sawah jadi kehilangan makna
filosofisnya. (Marzuki Mohammad aka Kill the DJ on putcast )
Di tengah-tengah enam jam perjalanan kereta membelah
banjir semarang dari Solo ke Kota Tegal. Beberapa waktu yang lalu. Saya mengisi waktu perjalanan saya yang tidak
filosofis blas dengan mendengar putcast di chanel youtube mojokdotco. Podcast
yang dibawakan mas Putut EA ini sangat menarik bagi saya, karena banyak
mengangkat tema-tema literasi, keilmuan, masalah-masalah sosial dll yang
dibawakan secara asyik dan menarik bagi saya yang bukan aktivis-aktivis banget
ini. Salah dua episode yang saya dengarkan adalah episode yang mendatangkan Dr
Fahrudin Faiz yang dikenal lewat ngaji filsafatnya, juga mas Marzuki Mohammad
sang DJ, raper dan pengusaha apa saja yang juga terkenal lewat Jogja Hiphop
Foundation.
Pada awal tulisan ini Saya kutipkan dua kata-kata
keren di dua podcast tersebut. Setengah misuh dalam hati saya menyadari
bahwa kita semakin hari, semakin mirip mesin. Hidup kita menjadi sangat tidak
filosofis. Setiap hari kita dikejar deadline, saat sekolah dan kuliah kita diburu oleh deadline
tugas. Saat kerja kita diburu deadlie dan target-target pekerjaan kita. Sehingga kita tidak punya lagi waktu untuk berfikir apa dan kenapa, tapi selalu
kapan, siapa, dimana dan bagaimana. Kapan saya lulus? bagaimana saya bisa
menikah? Siapa yang akan mendampingi saya setelah ini? Bagaimana besok saya
makan? dimana setelah dewasa saya tinggal?. Dan ribuan pertanyaan-pertanyaan
teknis lainya yang menghinggapi fikiran kita setiap harinya.
Pertanyaan-pertanyaan yang sering terlontar semacam "kapan nyusul nikah?", "kapan lulus?", "kok belum punya momongan?" , "kok anaknya tidak rangking satu?" , "kapan sukses kayak saya?". semakin membuktikan bahwa orang-orang semakin berfikir secara teknis. mungkin, difikiran mereka menikah,pendidikan, mendidik anak, melahirkan, juga karir hanya semata-mata proses teknis yang bisa dibanding-bandingkan ketepatan waktu juga kualitasnya antara satu proses dengan proses yang lain. setengah misuh lagi saya bergumam dalam hati "kenapa tak kalian fikirkan kenapa semua anak harus rangking satu?, apakah kepintaran hanya diukur rangking, apa kalian tak punya definisi pintar selain itu. sehingga memaksa setiap anak harus menjadi yang ter-atas".
Kenapa kita tak berfikir apa itu makna pernikahan sebelum jauh-jauh kita menargetkan diri untuk menikah. supaya kehidupan setelah pernikahan lebih bermakna. Apakah menikah hanya sebuah fase pelestarian umat manusia. Atau ada makna tertentu didalamnya. Tentu argumen ini bukan semata-mata pembelaan bagi kaum jomblo tua seperti saya (atau lebih tepatnya menghibur diri karena ditinggal menikah beberapa kali), tapi untuk menyadarkan diri kita, betapa tak bermakna hidup kita.
Lalu keputusan-keputusan penting dalam hidup kita
seperti kuliah, kerja, menikah, punya
anak dll terlewat begitu saja tanpa perenungan yang dalam. pertimbangan kita dalam hal-hal tersebut
hanya sebatas untung dan rugi diantara opsi-opsi yang ada. “kalau saya kerja di
tempat a gaji sedikit tapi jarak ke rumah dekat daripada tempat b”, “kalau saya
berumah tangga disini akan lebih kondusif daripada berumah tangga disana” dsb. Tak
ada waktu lagi untuk memikirkan apakah saya harus kuliah? Kenapa saya harus
menikah? Kenapa saya harus kerja seperti ini dll.
Apakah itu salah ? saya tidak mengatakan salah
benar. Toh zaman yang serba cepat hari ini memang memaksa kita untuk berfikir
secara teknis. Tapi kemudian, hal-hal teknis tanpa landasan filosofis yang kuat
akan rapuh. Kita mudah sekali diombang ambing ketidak pastian dunia ini,
gampang stress, kagetan, gampang panik dll. Dalam hal ber-agama pun kita
menjadi terfokus pada hal-hal teknis (tata cara beribadah, tuntunan-tuntunan
dll) tanpa mencoba merenungi apa hikmah, apa alasan, hakikat kita menjalani
semua itu. Atau Moeslim Abdurrahman mengistilahkan dalam buku "Islam Transformatif" dengan istilah peka syariat lupa hakekat. Kita pun jadi mudah marah, tersinggung dan memandang dunia dengan
kacamata hitam putih saja.
Bahkan bila kita membaca buku sapiens karya Harari. Kita akan menemukan pendapat penulis bahwa urusan kematian adalah hal teknis dimana bagian-bagian tubuh kita rusak dan tak lagi mampu berfungsi. Padahal masalah sebesar kematian mempunyai makna filosofis yang sangat mendalam. Bagaimana Nabi kita mengajarkan bahwa orang yang paling cerdas adalah mereka yang mengingat kematian dan mempersiapaknya. Artinya orang-orang yang mampu melihat makna filosofis kematian dan mengambil pelajaran di dalamnya. Hal-hal se sepele menanak nasi misalnya bahkan buang hajat pun sejatinya bila digali memiliki makna filosofis yang tentunya ada pelajaran yang dapat kita ambil.
Antonio Gramsci seorang politikus dan juga filsuf dari Italia sudah menyadari hal itu. Dalam salah satu tulisanya dia menyebutkan keberadaan (fisik) menutupi metafisika. Menurut-nya kebanyakan manusia memiliki kesadaran semu. Manusia memiliki kesadaran penuh atas apa yang dia lakukan, tapi dia tidak sadar kenapa dia memilih atau melakukan sesuatu tersebut. Contoh, seseorang secara sadar melakukan pekerjaan sebagai teknisi di pabrik, dia tau harus berangkat jam berapa, melakukan apa saja, pulang jam berapa. Namun kenapa dia memilih pekerjaan itu? apakah karena psikologi masyarakat sudah terpatri umur sekian sampai sekian kita harus bekerja. bekerja yang cocok bagi orang-orang seperti saya hanyalah ini dan ini dll. Stigma-stigma itu hadir dalam masyarakat baik dari propaganda pemerintah dan pihak lain yang berkuasa atau lewat kebijakan dan regulasi yang dimunculkan. Stigma-stigma tersebut membentuk perilaku, jenis pekerjaan, dan gaya hidup masyarakat. Masyarakat tak lagi peduli apakah ini sesuai dengan diri saya, keluarga saya, atau kebudayaan yang ada di lingkungan saya. Inilah yang disebut Gramsci sebagai kesadaran semu. kesadaran yang mengikuti kesadaran penuh pihak berkuasa untuk memenuhi kebutuhan sang penguasa.
Pada akhirnya kita terjebak dalam tataran teknis. Sebagai
aktivis program-program yang kita cetuskan tak lagi bermuatan filosofis karena
tidak lagi mempertanyakan apa dan kenapa program ini harus ada. Ya sekedar
menjalankan tradisi dan panduan yang ada. Sebagai guru, kita hanya menjalankan
tugas-tugas teknis seorang guru. Menyampaikan teori, melakukan evaluasi, dan
memberi penilaian. Tapi kita lupa ruh dari pendidikan adalah mendidik (yang
tentunya mengharapkan perubahan perilaku dan akhlak, bukan hanya bertambahnya
pemahaman) juga dakwah. Jadi manusia pun, kita hanya sekedar melakukan
fungsi-fungsi teknis dalam hidup kita. Kerja, berinteraksi, menjalin hubungan,
makan, tidur, dan akhirnya mati. Lalu kita lupa apa tujuan utama kita ada di
dunia ini.
Semakin berfikir secara teknis juga membuat kita tidak menghargai makna-makna filosfis dari sesuatu. Sawah misalnya, dulu sawah bukan hanya sebagai lahan produksi. Tapi tempat berinteraksi, menaruh harapan pada generasi yang akan datang, juga lahirnya beberapa kebudayaan. Manusia-manusia yang gagal memahami hal ini hanya menganggap sawah dan hasilnya sebagai lahan dan hasil dari proses produksi. Mungkin hal ini yang menyebabkan pemerintah begitu saja meng-impor ber ton-ton beras ketika musim panen padi di Indonesia. Panen juga bukan hanya satu tahapan dalam proses produksi, tapi juga perayaan dan saat bersyukur bagi para petani setelah mengurus sawah dan padi berbulan-bulan. Bahkan banyak masyarakat kita memiliki tradisi syukuran setelah panen, karena mereka yakin panen adalah berkah, dan berkah harus dirasakan semua pihak.
Mungkin hal ini juga yang membuat program food estate terus dipaksakan berjalan. Pemerintah secara ambisius membuat ratusan ribu hektar sawah di lahan gambut. Selain memiliki dampak buruk pada masyarakat, pemerintah sepertinya lupa. Urusan pangan serahkan kembali ke petani, lahan-lahan sawah yang sudah terbangun sejak lama beserta budaya dan interaksi masyarakat didalamnya dibabat begitu saja. Sekali lagi sawah bukan hanya sebuah lahan, bila tak memahami dan menghargai nilai filosofis yang terbangun di dalamnya tentu urusan gusur mengusur juga alih fungsi lahan akan sangat enteng dilakukan.
Abdurrahman, Moeslim. (1995). Islam Transformatif
Emhaf. (2013). Gramsci Pikiran Yang Terbebas Dar Jeruji
Noah Harari, Yufal. (2014). Sapiens
https://www.walhi.or.id/hentikan-proyek-cetak-sawah-food-estate-di-lahan-gambut-di-kalimantan-tengah
Komentar
Posting Komentar