Tentangmu dan Sujudku

Oleh: Abdul Rohman

    Alhamdulillah, sudah selayaknya kita memuji-Nya dan berterimakasih kepada-Nya. Rabb yang telah menganugerahkan cinta pada setiap jiwa manusia, yang dengannya dinamisme kehidupan ini menjadi terasa. Banyaknya permasalahan hari ini membuat diri ini ingin sejenak menepi, berpaling dari hingar-bingar perpolitikan, isu kemanusiaan yang hanya dijadikan bahan pencitraan dan pendongkrak elektabilitas, masalah ekologi yang tidak pernah lepas dari eksploitasi. Dunia sudah semakin fana dan manusia hidup sudah seperti tanpa makna, mereka lupa untuk apa mereka diciptakan.

    Sekuat apapun manusia melewati badai kehidupan yang menerpa dan sedewasa apapun ia dalam menyikapi realita, pada saatnya ia tetap membutuhkan sentuhan lembut dan untaian kasih, agar jiwa tetap terjaga dan emosinya mampu tereda. Seaktifis apapun seseorang, hatinya tetap terbuat dari segumpal darah yang sangat mudah untuk dicacah, maka ia butuh lebih dari sekuntum rosela untuk meredam lara. Selalu ada surut untuk pasang, dan selalu ada malam yang tenang untuk siang yang hingar-bingar.

    Setiap orang boleh menentukan faktor dan memilih cara mencintai, tapi perlu disadari bahwa tidak ada faktor dan cara yang lebih indah dari apa yang telah dituntunkan oleh yang maha cinta untuk hambanya. Fungsi cinta adalah memberikan ketenangan untuk kegelisahan, menyediakan bagi nestapa sebuah bahagia. Banyak yang tertipu oleh definisi cinta yang dipilihnya, karena menjatuhkan pada sesuatu yang sifatnya sementara. Cinta itu bersifat abadi, lantas kenapa dijatuhkan pada sesuatu yang fana?.

    Tulisan ini adalah caraku memberitahumu, tentang alasan mengapa jiwa ini memilihmu. Selain karena nyaliku yang kerdil untuk mengirimkannya langsung padamu, tapi juga karena cara seperti ini tidak memunculkan harapan agar datang balasan darimu. Kamu harus tau bahwa pada mulanya diri ini tak ingin mengenalmu, bahkan diri ini mencoba mengindar dari melihat matamu. Sebenarnya sebagaiamana orang kebanyakan, interaksiku dengan perempuan lain terbilang biasa, tapi entah kenapa ketika bertemu denganmu naluri imaniku muncul, maka ku tundukan wajahku dan kupalingkan pandanganku.

    Tuntutan pekerjaan membuatku harus menjalin interaksi denganmu, dan itu membuatku ‘merasa’ mengenalmu. Interaksi kita terbatas, bukan karena dibatasi tapi karena memang kita sama-sama faham akan sebuah batasan. Tapi  interaksi yang terbatas itu seolah memiliki magic, terlihat seperti tenda kecil tapi mampu menampung seluruh perabotan rumah, hal yang tidak pernah ku rasakan sebelumnya. Diri ini yang saat itu awam terhadap gejolak rasa tersebut membiarkannya begitu saja, dan dengan berlalunya waktu interaksi kitapun hampir sampai pada kata “tidak pernah”, tapi anehnya gejolak rasa itu terus ada. Akhirnya diri ini membranikan diri untuk menerka, mungkinkah itu yang dinamakan “Cinta”?!.

    Jujur ku sampaikan bahwa tidak pernah benar-benar tersimpan dalam ingatan bagaimana paras wajahmu, yang kuingat adalah bagaimana baktimu pada orang tuamu dan penjagaanmu atas dirimu, sampai-sampai diri ini merasa hina dan berdosa karena telah mencintaimu. Tapi apakah diri ini benar-benar bersalah atas rasa cinta itu? Dan apakah diri ini benar-benar tidak layak untuk hanya sekedar berharap?. “serulah Allah, serulah Ar-Rahman atau dengan nama mana saja yang kamu mampu. Ia memiliki nama-nama yang indah, maka jangan kau keraskan suaramu dalam sholat dan jangan juga terlalu pelan, tapi lirihkanlah” surat al-Isra’ ayat 110 itu terlintas dalam kegaduhan pikiranku, seolah memberi jalan keluar, maka ku dirikanlah shalat.

    Itu adalah shalat yang penuh ke-khusuan, disetiap geraknnya terdapat sebuah harapan. Didalam sujudku, dengan keheningan hati dan suara yang lirih kusebutkan nama-Nya kemudian namamu untuk sebuah harapku. Ya namamu, nama yang tidak pernah kuceritakan pada siapapun, bahkan kepada pena dan buku diaryku, dan hanya kepada Rabbku kusampaikan. Sementara sujudku, itu adalah sujud yang penuh ketenangan dan kedamaian, seolah segala nestapa dan lara tak pernah terjadi. Maka setelah itu namamu tak pernah kutinggalkan dalam sujudku, dan sujudku tidak pernah alpa dari menyebut namamu.

    Sudah menjadi qodratnya cinta mengharuskan adanya pengorbanan. Setelah lama waktu berlalu, maka sampai pada sebuah pertimbangan yang memunculkan sebuah kesadaran, bahwa kecil kemungkinan diri ini akan bersanding hidup denganmu. Maka kembali ku dirikan shalat, bermunajat kepada Rabbku. Dalam sujudku kembali kusebut nama-Nya kemudian namamu, tapi bukan untuk sebuah harap, melainkan untuk mengikhlaskan bila harapan itu tidak pernah terjadi. Bukan ku tak percaya pada Rabbku, tapi untuk menekan harapanku dan menyerahkan penuh urusan ini kepada-Nya.

    Mulanya aku mengira bahwa sujud dan aminku akan kecewa, ketika namamu tak lagi ku lantunkan. Tapi ternyata perkiraanku salah, ketenangan dan kedamaian itu masih ku temukan dalam sujudku, sama seperti waktu pertama ku menyebutkan namamu setalah menyebutkan nama-Nya untuk sebuah harapku. Diri ini merenung dan meyadari bahwa setelah urusan ini kuserahkan penuh kepada-Nya, maka yang terpatri dalam hati dan memori tinggalah Dia. Ya, Dia yang maha mencintai. Dari mencintaimu ku sadar, bahwa itu adalah cara Rabbku mengajariku untuk dapat mencintai-Nya.

Keindahan Sujud

    Manusia modern menganggap bahwa meletakan kepala dilantai dan lebih rendah dari pantat adalah sebuah kehinaan. Karena kepala adalah lambang kehormatan, didalamnya tersimpan otak sebagai lambang rasio/akal. Meletakkannya pada posisi terendah, mensejajarkannya dengan lutut dan kaki adalah sebuah pelecehan. Orang yang melakukan hal tersebut, berarti telah melecehkan dirinya sendiri. Dan juga dianggap bahwa ritual sepert itu adalah ritual primitif, tidak selayaknya orang modern melakukannya.

    Sebagai orang islam harus dapat memahami, bahwa islam artinya tunduk dan pasrah pada ketentuan Allah, dan Allah meminta hambanya untuk bersujud kepada-Nya. Dan perlu dipahami juga, bahwa sujud adalah bukti bahwa orang islam adalah orang yang paling merdeka, karena hanya tunduk kepada dzat yang esa dan tidak diperbudak oleh manusia lain atau dirinya sendiri. Mereka menyangsikan orang islam yang sujud karena taat kepada Rabbnya, padahal mereka enggan dan menghinakan sujud karena taat pada pikirannya. Manusia modern menganggap sujud sebagai sesuatu yang hina, tapi dalam islam kita diajarkan bahwa sujud adalah waktu terdekat antra hamaba dengan Rabbnya.

 

عن أبي هريرة أن رسول الله صلي الله عليه و سلم قال أقرب ما يكون العبد من ربه وهو ساجد فأكثر الدعاء

Dari Abu Hurairah bahwa Rosulullah shallallahu alaihi wasalam bersabda “Keadaan paling dekat antara hamba dan Rabbnya adalah ketika sujud, maka perbanyaklah doa”. H.R Muslim.

Refrensi

El Shihrezi Habiburrahman, Bumi Cinta, semarang; Basmala, November 2013.

Ibnu Abdil Bari, Tadabur Bacaan Shalat menyelami makna memetik hikmah, Sukoharjo: zaduna, september 2020.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ekspektasi Rendah

Kebahagiaan Dalam Keabadian

Saya Membaca, Tapi . . . .