Mengulik Puasa

  Oleh: Fadzilah Arifin

    Puasa identik dengan aktivitas ritus atau ritual religi, puasa juga menempati sekte intim karena beberapa ritus puasa itu tidak terekspos diruang publik dan ritus itu hanya perihal kemesraan antara hamba dan Tuhannya, kiranya begitu pendapat penulis mengenai puasa secara permukaan, boleh dikritik hehehehe, tetapi apakah benar paradigma itu bisa dijustifikasi sewenang-wenang demikian?, Maksudnya apakah puasa itu hanya sesaklek ritus keagamaan semata yang uforia selalu ditunggu oleh ummat, apakah puasa sesempit itu? Apakah puasa tidak memiliki sisi lain yang biasanya kurang terdengar ditelinga orang awam seperti penulis ini, mungkin kiranya asik menggubris puasa dari sisi lain itu yang kiranya pertanyaan yang tepat untuk diajukan biar tulisan ini nanti melumer ialah , apa relevansi puasa bagi hidup, atau pentingnya puasa bagi hidup selain sebagai subsidi ketenangan metafisis sahaja, apakah ada keuntungan lain dengan berpuasa? Kiranya begitu hehehe mari

    Apabila kita lacak dari akar bahasa, puasa berasal dari bahasa Sansekerta yaitu Upawasa yang bermakna ritual untuk mendekatkan diri, agar sampai pada perjumpaan agung dengan Sang Maha Agung. Ada juga istilah selain Upawasa yaitu Pasa. Kemudian berkembang menjadi Puasa. Selaras dengan makna Shaum atau Shiyam di dalam bahasa Arab Sho–wa–ma berarti menahan, berhenti, tidak bergerak. Menahan di tengah-tengah kebiasaan melampiaskan keinginan. Keinginan sejak bangun tidur hingga menjelang tidur. Ingin makan, ingin minum, ingin jalan-jalan dan ingin-ingin seterusnya yang tiada habisnya jika dituruti. Bahkan mungkin keinginan itu mewujud merasuk dalam rupa mimpi saat tidur. Di mana hidup kita dalam berbagai hal terkait apapun itu, lebih banyak digas dari pada direm.

    Nah, di sini adanya puasa dalam rangka menahan, mengendalikan, mengingatkan bahwa hidup itu tidak cuma digas tapi juga butuh direm. jadi puasa berfungsi untuk menahan diri,untuk mengerem sesuatu yang memang naluri alamiah manusia, seperti ambisi, ekspetasi dan beberapa hal yang kadangkala berada di benak manusia, kata kuncinya adalah menahan diri, bayangkan manusia itu sudah berpuasa sejak manusia mengerti ilmu atau otaknya mulai berevolusi menjadi agak tercerahkan, sehingga manusia masih bisa bertahan hingga sekarang tidak punah, dan sebab berpuasa itulah dunia dan segala kerangka matematisnya langgeng juga,bayangka jika manusia tidak berpuasa mereka akan berhubungan seks semena-mena, mengeksploitasi alam tanpa pikir, membunuh hewan dan tak ada benar-benar peradaban, contoh kecil orang berpuasa itu adalah ketika kita memakai baju, bagaimana kita menahan seksualitas kita hingga tiba momentum baiknya, dan contoh lain adalah makan, bagaimana kalo kita tidak berpuasa kita akan menyodorkan terus makanan hingga tubuh kita obesitas dan alam menjadi lenyap jika semua orang tidak berpuasa, dan masih banyak lagi contoh membahayakan jika manusia tidak berpuasa.

    Dengan begitu kiranya penulis ingin memberi tanggapan subjektifnya tentang puasa yakni aktivitas untuk merenung dan memfilter apa yang pantas, simpelnya memilah kapan waktu berbuka dan kapan waktunya puasa, lihatlah potret kehidupan modern ini lebih banyak mana, orang berpuasa atau ambisinya, ekspetasinya, tau hal-hal keinginannya dari pada berbuka dengan keinginannya, bagiamanakah jikalau dunia ini hanya dihuni oleh orang-orang yang hanya tahu berbuka tanpa puasa,apa jaminan kelanggengan kehidupan ini,? Kiranya itu nanti buat bahan merenung penulis dan pembaca jika mau sehingga kita sama-sama mengkonstruk terus paradigma puasa yang relevan dengan keadaan zaman yang terus dijalankan oleh orang-orang yang suka berbuka hehehe,kiranya begitu terimakasih...

 

Referensi

https://www.caknun.com/2018/manusia-puasa/?amp

Komentar

  1. Puasa itu bagi saya sendiri adalah suatu kewajiban dimana umat muslim itu menjalankan,kewajiban puasa hanya untuk menahan segala atas godaan yang bisa melemahkan iman dan taqwa kita dari penyakit tubuh. Tuhan pun merestui atas kewajiban itu untuk mengampuni dosa-dosa manusia yang akan digugurkan,apakan harus ada puasa itu buatan manusia dalam hal relegent nya partisipasi menahan lapar saja?


    Jangan menggandakan kewajiban kita

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ekspektasi Rendah

Kebahagiaan Dalam Keabadian

Saya Membaca, Tapi . . . .