Perempuan Juga Dimuliakan

 Oleh: Intan Perwira Kusuma

Dalam rangka memperingati hari kartini 21 April 2021.

     Dengan berkembangnya zaman dan semakin pesatnya arus informasi dan teknologi, ternyata tidak membuat isu seputar Feminisme, perempuan, dan pandangan islam terhadap perempuan meredup atau hilang. Namun, justru para pengusung liberalisme yang tidak menyukai cara islam melindungi, memuliakan, dan menghormati perempuan terus saja melakukan perang pemikiran. Mereka terus melakukan propaganda negatif yang menyerang pemikiran masyarakat islam dengan tujuan akhir hilangnya sense of belonging umat islam terhadap agamanya dan menjauhkan umat islam dari pokok-pokok ajaran islam itu sendiri. 

     Dalam (QS. An-Nisaa’: 1) “Wahai manusia ! Bertakwalah kepada tuhanmu, yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)nya; dan dari keduanya allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan, bertakwalah kepada allah, yang dengan namanya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya, allah selalu menjaga dan mengawasimu.”

Di dalam ayat ini diterangkan bahwa asal usul kejadian manusia adalah satu. Tafsir dari satu tersebut ada dua macam. Pertama tafsir yang biasa, yaitu pada mulanya allah hanya menjadikan satu diri saja, Adam. Kemudian, dari diri yang satu itulah Allah ciptakan untuknya seorang istri, yaitu hawa. Di dalam sebuah hadits (Mauquf Shahabi) dari Ibnu Abbas diterangkan bahwa bagian diri adam yang dijadikan untuk tubuh istrinya ialah satu dari tulang rusuknya. 

Ayat pertama dari surah an-nisaa’ ini hanyalah satu saja di antara banyak ayat yang mengistimewakan sebutan terhadap kaum perempuan. Bahkan, ada diantara perempuan tersebut yang termasuk pelopor dalam beriman kepada nabi Muhammad SAW, seperti Siti Khadijah, istri pertama nabi. Anak-anak perempuannya pun telah terpesona oleh ayat-ayat dan surah-surah yang telah diturunkan di mekah. Misalnya, surah ke 19 yang diturunkan di mekah. Surah ini memakai nama seorang perempuan, yaitu surah Maryam. Maryam, ibunda Isa Al-Masih. Apabila surah Maryam ini dibaca, terbayanglah kesucian seorang dara, kesalihannya, dan hidup Zuhudnya. 

Alangkah bangga kaum perempuan islam karena ada sebuah surah yang memakai nama perempuan. Mereka terhormat dan mulia banyak disebut dalam Al-Qur’an. Disebut juga bahwa di antara perempuan-perempuan tersebut ada yang mendapat wahyu istimewa dari allah, yaitu ibunda nabi Musa, Di samping itu, tersebut pula istri pertama nabi Ibrahim, yaitu Sarah, disebut juga dalam AL- Qur’an tentang kakak Nabi Musa yang perempuan. Disebut juga dalam Al-Qur’an kedua putri Nabi Syu’aib seorang diantaranya menjadi istri Musa. Disebut juga dalam Al-Qur’an istri Fir’aun yang bernama asiah.  

An-Naml Surah yang mengisahkan tentang seorang ratu di negeri Saba, yaitu Ratu Bilqis. Diterangkan mengenai percaturan politiknya dengan Nabi Sulaiman. Dalam beberapa ayat yang singkat diterangkan bagaimana wibawa perempuan yang agung itu memerintah, dan para pembesar kerajaannya yang tunduk setia menunggu perintah. Pendeknya surah-surah yang membicarakan perempuan, rumah tangga, dan peraturan hidup, semuanya meninggalkan kesan yang dalam sekali pada jiwa kaum perempuan bahwa mereka tidak disia-siakan. Mereka dipandang sebagai bagian yang sama pentingnya dengan laki-laki dalam memikul tanggung jawab beragama, mengokohkan Aqidah dan ibadah sehingga timbullah harga diri yang setinggi-tingginya pada mereka, yaitu timbulnya ilham perjuangan. 

#HIDUP PEREMPUAN. 

Referensi 

 Hamka. berbicara tentang perempuan.

Komentar

  1. Allah pun memuliakan perempuan yang begitu lembut dan bersinar dari cahaya hatinya. Dengan sikap yang harus memiliki harga diri untuk merendahkan sifat yang begitu identik dalam profesional nya menjaga kebersihan. Perempuan yang dominan dari segala prasangka yang menghindarkan dari keburukan tapi jangan terlalu banyak menjadi tumbal dari kekerasan

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ekspektasi Rendah

Kebahagiaan Dalam Keabadian

Saya Membaca, Tapi . . . .