PALESTINA

     Oleh: Abdul Rohman

    Segala puji hanya milik Allah yang yang telah mengeluarkan manusia dari perut ibunya dalam keadaaan merdeka, dan yang memerintahkan setiap manusia untuk senantiasa hidup tanpa diperbudak oleh makluk dan hanya menghamba kepada-Nya. Setalah pertengahan abad 20 maka Negara-negara bersepakat untuk menghentikan peperngan, tidak adalagi penjajahan Negara kuat atas Negara lemah. Senjata-senjata perang terus dikembangkan tapi tidak untuk digunakan. Maka sejak saat itu kemerdekaan mentransformasi dirinya.

   Sebelum pertengahan abad 20, ketika seseorang meneriakan kata merdeka maka itu berarti terhidar dari serangan musuh, tidak adalagi penjajahan dari yang kuat atas yang lemah, hidup tenang tanpa hawatir ada bom-bom yang akan dijatuhkan, era dimana hukum rimba dan hukum cekhov masih diberlalukan. Hari ini teknologi berkembang begitu pesat dan era penjajahan sudah lama ditinggalkan, ketika seseorang mengatakan kata merdeka maka artinya terlindungnya keamanan data-data dari serangan seorang hacker, perang militer telah berganti dengan perang cyber.

  Akan tetapi dibeberapa Negara makna kemerdekan belum mampu untuk bertansformasi. Orang-orang di Negara tersebut masih hawatir bila penyerangan terjadi, bom-bom akan bejatuhan, penindasan dari yang kuat atas yang lemah akan dilakukan. Salah satunya adalah Palestina, Al Quds. Tempat yang akan senantiasa suci, padahan telah banyak pelanggaran kemanusiaan yang menghinakan terjadi diatasnya.

Mengapa Tidak Disebut Penajajahan?

     Apa yang dilakukan oleh Israel atas Palestina sangat tidak layak bila hanya disebut sebuah terror, karena terorisme tidak memiliki kemampuan untuk menguasa sebuah kota apalagi sebuah Negara. Terorisme itu seperti seekor lalat yang masuk kesebuah toko makanan untuk menghancurkan toko tersebut, alih-alih menghancurkan, menggeser sebuah toples saja lalat itu tidak mampu, tapi lalat itu mampu membuat sipenjaga toko terganggu.

     Apa yang dilakukan oleh Israel atas Palestina adalah sebuah penjajahan dan penjarahan. Adalah hal biasa bom-bom Israel diluncurkan untuk menyasar ke pemukiman warga palestina. Kekerasan yang dilakukan oleh milisi-milisi israel kepada warga palestina juga bukan hal yang sulit untuk ditemukan. Wilayah palestina yang semakin menyempit karena dirampas oleh Israel. Tapi dunia menganggap itu hanya sebuah konflik, dan tidak dengan tegas mengatakan bahwa itu sebuah penjajahan.

     Memilih kata “konflik” adalah pilihan yang tepat, agar dunia hari ini tidak dicemooh kareana membiarkan pelanggaran HAM terjadi. Jelas, salah satu rumusan HAM adalah hak kebebasan, dimana ketika dunia memilih kata “penjajahan” untuk kasus israe atas palestina maka dunia harus secara serempak menghentikaannya, tidak hanya melemparkan kata-kata “Desakan”, “Kutukan” dan bla-bla-bla lainnya sebagaimana yang dilakukan oleh banyak Negara  hari ini.

Tanggung Jawab Iman!

   Sebagai orang beriman kita perlu paham bahwa apa yang sedang terjadi bukan hanya tentang Israel dan palestina. Lebih dari itu, apa yang terjadi disana adalah perkara keimanan, karena Al Quds yang hari ini lebih akrab dengan Palestina adalah tempat yang diberkahi oleh Allah, tempat yang dimana masid kedua setelah Al-Harom dibangun, dan kiblat pertama umat islam. Perebutan Al Quds antara kaum mu’mini dan kafirin sudah berlangsung dari sejak lama, maka jangan sampai kita termakan oleh framing media yang mengatakan bahawa antara Israel dan palestina adalah konflik bangsa arab.

     Ketika Umar bin Khoththob merebut Palestina, Umar tidak mengatakan bahwa Maidan/Makkah menang. Ketika Sholahuddin Al Ayubi merebut Palestina, ia tidak menyebut Persia menang. Penguasaan atas Palestina Allah silih bergantikan, dan ketika orang-orang beriman menguasainya mereka tidak menyebutkan kebangsaan mereka, karena mereka melakukan hal itu atas dasar iman, oleh karena itu kalimat iman senantiasa diteriakan dan bukan jargon-jargon kebangsaan.

  Syekh Abu Bakr Al ‘Awawidah setelah menjelaskan bahawa pemegang panji kejayaan islam ini oleh Allah pergulirkan, dan sebab kemerdekaan Palestina bukan dengan bersatunya bangsa arab. Melainkan oleh kaum yang Allah tunjuk sebagai pemegang panji kejaan islam. Beliau mengatakan “Dan bukankah, Rosulullah bersabda bahwa kejayaan akhir zaman akan dating dari arah timur dengan bendera-bendera hitam mereka? Dulu para Ulama mengira bahwa Khurosan. Dan daulah ‘Abbasiyah sudah menggunakan pemaknaan itu dalam menggulingkan Daulah Umamiyah. Tapi kini kita tahu, dunia islam membentang dari Maghrib, dari Maroko hingga merauke”, ujar beliau sembari terkekeh.

     “Maka sungguh aku berharap, yang dimaksud oleh Rosulullah adalah kalian wahai bangsa Muslim Nusantara. Hari ini tugas kalian adalah mengenapkan syarat-syarat agar layak ditunjuk oleh Allah untuk memimpin peradaban islam”. “Ah, aku sudah melihat tanda-tandanya. Tapi barang kali kami para pejuang palestina masih harus bersabar sejenak berjuang digasir depan. Bersabar menanti kalian layak memimpin, bersabar menanti kalian datang. Bersabar hingga kita bisa sholat bersama di masjid Al Aqso dengan keadaan merdeka InsyaAllah”.

   Al Quds, Palestina adalah tanggung jawab setiap jiwa yang saksi bahwa Allah sebagai Rabbnya dan Muhammad adalah Rosulnya. Maka setiap jiwa yang beriman akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang telah dilakukannya untuk Al Quds, Palestina.


سبحان الذي أسرى بعبده ليلا من المسجد الحرام إلي المسجد الأقصا الذي باركنا حوله لنريه من ءاياتنا إنه هو السميع البصير

    Mahasuci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Harom ke Masjidil Aqso yang telah kami berkahi sekelilingnya, agar kami perlihatkan kepada sebagian tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat. (Q.S Al Isr’ (18): 1)

Referensi

Gie Irawan. Tulisan Salim A. Fillah Ini Menyentak Nurani Muslim Indonesia. (online) (https://www.islamedia.id/2014/12/tulisan-salim-fillah-ini-menyentak.html)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ekspektasi Rendah

Kebahagiaan Dalam Keabadian

Saya Membaca, Tapi . . . .