RIDDIKULUS
Oleh:
Abdul Rohman
Film Harry Potter adalah film fantasi yang diangkat dari novel karya J.K Rowling, film ini selalu memikat setiap penontonnya di setiap generasi. Film Harry Potter tidak hanya membuat takjub penontonnya dengan alur cerita petualangannya yang memadukan antara magic dan kisah cinta, tapi juga terselip filosofi-folosfi kehidupan yang bisa untuk diterapkan. Salah satunya terdapat pada serial film Harry Potter yang ketiga dengan judul “Harry Potter and The Prisoner of Azkaban”. Dalam seri ketiga film tersebut ada satu adegan yang menarik, yaitu saat Prof. Lupin guru pertahanan ilmu hitam mengajari mantra untuk menaklukan Boggart, mahluk yang akan berwujud menjadi sesuatu yang paling ditakuti oleh seseorang.
Sebelum membahas lebih lanjut, tulisan ini hanyalah bahan sharing atas pelajaran yang dapat diambil saat menonton film tersebut. pelajaran yang bagi saya cukup penting dan mungkin juga bermanfaat untuk teman-teman yang membaca. Mengingat bahwa hidup ini adalah rangkaian dari permasalahan, tapi uniknya cara orang-orang menyikapi masalah tersebut berbeda. Ada yang menyikapi masalah tersebut dengan kepanikan, sehingga tatkala satu masalah belum selesai sudah muncul masalah yang lain. Ada juga yang menyikapi suatu masalah dengan tenang, sehingga dia bisa menikmati masalah tersebut.
BOGGART
Dalam salah satu adegan di film tersebut Hermione Granger menenerangkan bahwa “Boggart pandai berganti wujud, mereka akan mengambil bentuk yang paling ditakuti oleh seseorang”. Boggart itu seperti masalah dalam kehidupan, sekala masalah tersebut tergantung bagaimana seseorang menyikapinya. Bila seseorang mampu tenang tatkala menghadapi masalah, maka masalah tersebut bisa saja terlihat kecil. Sebagai mana William Shakespeare seorang pujangga inggris berkata “Their is nothing either good or bad, but thinks make its so”.
Kita mungkin pernah bertemu dengan orang yang memiliki masalah cukup rumit, tapi ia mampu dengan baik menghadapi maslah tersebut. Seperti pelaut yang berhadapan dengan badai besar, ia mampu memegang kemudi kapal sembari memberi instruksi pada awak yang yang lain. mungkin juga kita pernah membaca suatu berita tentang seorang remaja bunuh diri karena ditolak cintanya oleh wanita idamannya, sungguh menyedihkan.
Sikap tenang atau panik seseorang dalam menghadapi masalah adalah hasil dari bagaimana pikiran merespon hal tersebut, karena pada sejatinya setiap tragedi dalam hidup bersifat netral yang dapat memberi dampak baik ataupun buruk pada diri seseorang, tergantung pikiran memilihnya. Contoh ketika sesorang terjebak macet pikirannya berhak memilih, apakah macet tersebut hal yang buruk atau hal yang biasa sehingga ia bisa mengambil manfaat dari macet tersebut.
RIDDIKULUS
Riddikulus adalah mantra yang merubah Boggart dari bentuk yang menakutkan ke bentuk yang sangat lucu, dengan syarat ide kelucuan tersebut mampu menggantikan ketakutan yang menguasai pikiran. Pada adegan dalam film, Nevill seorang siswa yang takut terhadap Prof. Snape karena sikafatnya yang tidak friendly dan gayanya yang cukup arogan. Nevill mampu merubah Prof. Snape (Boggart yang menjelma menjadi Prof. Sanpe) orang yang ditakutinya, menjadi orang yang bisa ia tertawakan dengan mantra tersebut.
Epictetus pernah berkata “Burung gagak katanya pertanda sial, tapi bagi saya semua pertanda adalah keberuntungan. Karena apapun yang terjadi saya memiliki kendali penuh untuk mengambil keuntungan darinya”. Dalam kasus macet tadi, bila pikirannya memilih sebagai hal yang buruk, maka iapun akan marah-marah dan menyalahkan banyak orang, dari pemerintah samapai penyebrang jalan, sebagai sikapnya dalam merespon tragedi tersebut. Tapi bia pikirannya memilih macet tersebut sebagai hal yang biasa, maka iapun akan gunakan waktu macet tersebut dengan hal-hal yang bermanfaat seperti membaca, sebagai sikapnya dalam merespon tragedi tersebut.
Kita mungkin punya teman yang tidak bisa berenang, yang bila diajak ke sebuah water park ia akan sangat hati-hati karena takut dijeburkan. Yang apabila ia diceburkan ke kolam yang dalamnya tidak menenggelamkannya, ia akan gelagapan untuk beberapa saat sampai ia sadar bahwa kolam itu tidaklah dalam. Tragedi yang disikapi dengan kepanikan maka akan mampu mencelakai seseorang, tapi sebaliknya tragedi yang disikapi dengan ketenangan maka akan mampu dinikmati oleh orang tersebut. Seperti orang yang bisa berenang, seberapapun dalam kolam renangnya ia akan tetap mampu menikmatinya.
ENJOY YOUR LIFE
Melihat kondisi hari ini dimana masalah sudah terinterkoneksikan dari setiap dimensi kehidupan, maka stres atau depresi sangat mudah menghampiri bila pikiran kita gagal meresponnya sebagai hal yang netral. Coba saja bayangkan hari ini pandemi melanda, pulang ke kampung halaman tidak hanya berpikir ongkos transportasi tapi juga ongkos swab. Belum lagi kesuksesan sepupu, yang membuat tidak nyaman ketika bertemu keluarga besar karena dibanding-bandingkan, ditambah tuntutan orang tua yang diluar kemampuan, tanggung jawab organisasi yang tidak mungkin diabaikan begitu saja, kuliah sudah masuk usia senja, dan seabrek masalah lainnya. Maka pengendalian pikiran adalah hal yang penting untuk kita kuasai, agar kita mampu menyikapi masalah dengan bijak. Hidup bisa lebih tenang dan nyaman. Dan kabar baiknya adalah dengan “Riddikulus” setiap masalah bisa untuk ditertawakan. So, Riddikulus, enjoy your life!.
“Seni dalam mengetahui adalah mengetahui apa yang harus diabaikan. Abaikanlah hal-hal yang membuatmu merasa ketakutan dan sedih, yang akan menyeretmu dalam penyakit dan kematian” (Jalaludin Rummi)
Refrensi:
Hanry manampiring. 2019. Filosofi Teras. Jakarta; Penerbit Buku Kompas.
Komentar
Posting Komentar