Saya Membaca, Tapi . . . .

  Oleh :

Abdul Rohman

  Segala puji bagi Allah yang telah memfirmankan surat al-Alaq ayat yang pertama. Ayat pertama yang diturunkan sebagai langkah pertama untuk keluar dari masalah yang sedang melanda. Pada tulisan kali ini saya hanya ingin sekedar sharing tentang masalah ataupun kasusus yang saya alami dalam aktivitas membaca. Disclaimer terlebih dahulu, saya bukanlah seorang kutu buku ataupun pencinta buku, saya hanya baru mencoba belajar dalam mengakrabkan diri dengan buku. Nah, sependek pengalaman saya dalam aktivitas membaca, saya mengalami kasus-kasus unik yang ketika saya sharingkan dengan beberapa teman ternyata mengalami kasus yang sama.

   Harus diakui bahwa membaca memang bukanlah hal yang mudah karena membutuhkan skil memahami yang baik, baik dalam memahami pokok bahasan, struktur penulisan, latar belakang, serta obyek dan tujuannya. Membaca juga memerlukan kemampuan dalam berimajinasi, karena ketika membaca kita diminta untuk mampu merealisasikannya dalam pikiran. Imajinasi tidak hanya dibutuhkan ketika membaca fiksi, tapi non fiksipun begitu. Oleh karena ketika membaca, pikiran terus mengejar mata untuk mampu mehamai bacaan tersebut. Maka tak sedikit dari orang yang membaca, sejenak menutup bukunya untuk memberikan waktu pada pikirannya guna mencerna bacaan tersebut dan menggambarkan dengan lebih jelas tentang apa yang dibacanya.

     Dan kecepatan pikiran dalam mengikuti mata tergantung koleksi pengetahuan yang dimiliki oleh pembaca. Seperti seorang guru tajwid saat membaca kata “Isti’la” maka ia akan lansung faham, yaitu mengangkat lidah bagian belakang saat mengucapkan huruf tertentu dalam membeca al-Qur’an. Tapi bagi seorang santri yang baru mendapatkan materi tajwid, bila membaca kata yang sama maka ia membutuhkan waktu yang cukup lama bagi pikirannya untuk memperoses kata tersebut dan bahkan memerlukan bantuan dari gurunya.

        Membaca juga membutuhkan kesabaran dan keistiqomahan karena memerlukan durasi yang tidak sebentar dan waktu yang berkala, sedangkan secara empiris kegiatan membaca hanya menggerakkan mata mengikuti tulisan dan sedikit gerakan jari untuk membulak-balikan lembar kertas. Waktu 30 menit bagi saya paling hanya mampu membaca delapan sampai sepuluh halaman dengan ukuran buku 14 x 21,5 cm, itupun belum tentu faham. Tapi bagi peternak waktu 30 menit mampu digunakan untuk mengumpulkan rumput untuk sekali makan lima ekor kambing, plus seluruh anggota tubuh dari ujung rambut sampai ujung kaki berkerja. Semetara bagi buruh pabrik 30 menit bisa digunakan untuk mengejar target produksi.

      Membaca adalah mengumpulkan kemegahan idealis, yang bagi kaum materialis dianggap tidak begitu menguntungkan. Membaca hanya akan dinilai sebagai kegiatan yang positif ketika seseorang masih dalam masa belajar, tapi pada masa produktif kegiatan membaca berkemungkinan dinilai sebagai kegiatan yang kurang bermanfaat, kecuali bagi yang berkerja didunia pendidikan. Maka membaca bukanlah kegiatan yang mudah, dan bagi usia produktif harus memiliki kemapanan materi, agar aktivitas membaca tetap dipandang sebagai aktivitas yang positive, dan secara persuasive mengajak orang lain untuk ikut membaca. 

Membaca tapi tidak faham

Masalah yang pertama adalah “Tidak faham”, masalah ini mungkin sering kali dialami oleh pembaca pemula seperti saya. Mungkin membaca bukunya selesai, tapi apakah faham?, belum tentu, tapi setidaknya koleksi judul bukunya bertambah. Ada dua tipe orang dalam masah ini, yang pertama mengakui bahwa dia tidak faham, dan yang kedua gengsi mengakui kalo dia tidak faham. Nah, tipe yang kedua ini harus punya skil mengarang dan beralasan yang baik, karena ketika ada seorang teman yang telah membaca buku yang sama, kemudian sharing terkait buku tersebut, maka disitulah skil mengarangnya dimulai. Dan  ketika uraian tidak sama dengan yang difahami temannya, disitulah skil ngeles harus keluar. bagi anak pesantren bila sudah dalam kondisi seperti itu, biasanya dawuh pak kiyai yang keluar “likulli ro’sun, ro’yun” bahwa setiap kepala punya perspektifnya masing-masing.

      Tapi dalam kasus ini saya merasa mendapat pembelaan saat menonton chanel youtubenya mojokdotco, ketika tamunya Muhidin M. Dahlan, seorang penulis yang handal dan Kontroversial, salah satu karyanya pernah dibedah oleh kawan Rizal pada diskusi rutinan NPL yang berjudul “Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur”, sementara kawan Atha saat mereview buku tersebut menjulukinya sebagai “Pena Tajam” karena tulisannya yang cukup berani (https://nalarpojokliterasi.blogspot.com/2020/12/tuhan-izinkan-aku-jadi-pelacur-upaya.html). Dalam you tube tersebut Gus Muh (Muhidin) berkata “Sayakan sewaktu kelas dua STM sudah baca Ulumul Qur’an ……..walaupun gak dong (gak faham)” (https://www.youtube.com/watch?v=ZInFBlfrCmM&t=1851s). Seorang Muhidin M. Dahlan pernah membaca buku dan tidak faham, berarti tidak faham saat membaca sebuah buku adalah hal yang wajar. 

     Dalam youtube tersebut tersebut Gus Muh juga mengatakan sebuah perkataan yang bisa dijadikan dalil ketika tidak faham saat membaca, Gus Muh mengatakan “(Membaca itu) tidak perlu memahami, dekatkan aja dulu, disuplay aja dulu nanti juga akhirnya akan tau”. Dan bisa saja mungkin kita merasa bahwa kita tidak faham terhadap bacaan kita, tapi tanpa disadarai mata kita langsung menghantarkan bacaan tersebut pada memori, sehingga ketika disuatu hari ada orang yang membahas tentang apa yang pernah kita baca, memori tersebut muncul kepermukaan dan menbuat kita lebih mudah memahaminya.

Tidak Selesai dalam Membaca Sebuah Buku

     Masalah yang kedua adalah tidak selesai dalam membaca sebuah buku, dan ternyata beberapa teman juga mengalami hal yang sama, saya mencoba menganalisa beberapa faktor. Faktor pertama bisa karena bukunya terlalu berat, seperti filsafat, politik, HAM, Ulumul Qur’an, Ilmu Hadis atau buku-buku yang seperti itulah, dimana untuk memahaminya perlu untuk mempelajari teori-teori dasarnya terlebih dahulu. Saya menemukan dua tipe orang pada kasus ini, yang pertama untuk mengukur jati intelektualnya, sanggup gak membaca buku ini. Yang kedua adalah agar terlihat intelktualis, minjem dari perpustakaan, dibawa kemana-mana, tapi kata pengantar belum selesai dibaca sudah kebingungan, searching kata yang sulitnya di google dan ternyata itu istilah dalam suatu disiplin ilmu yang penjelasannya juga panjang dan tambah membuat pusing, sampai akhirnya buku itu dikembalikan dan tidak pernah disentuh lagi.

       Faktor kedua karena tidak menarik, bisa jadi karena tertipu sampul atau karena berada dirak buku-buku best seller, atau bisa juga karena dipengantari oleh seorang tokoh maka akhirnya dibaca, tapi ketika dibaca ternyata tidak menarik. Ada juga cerita seorang teman yang membeli buku bukan karena tertarik pada isinya, melainkan karena sedang berada dipameran buku dengan discond besar-besaran, dan dia menemukan buku yang murah dan cukup tebal. Fenomena memebli buku karena dipengantari oleh seorang tokoh juga banyak terjadi, dan saya pernah mengalami hal itu, dan sampai saat ini buku itu belum selesai saya baca dan baru pernah saya jadikan sebagai tambahan refrensi.

  Faktor ketiga adalah karena reflektif, menyelami dengan dalam setiap keterangan didalam buku, mengkorelasikan dengan kehidupan yang actual, menganlisa masalah dan mencari solusi teoritik. Membaca reflektif memang membutuhkan waktu yang sangat lama, sehingga terkadang membuat suatu buku tidak selesai dibaca, karena terbentur oleh kegiatan yang lain. Bila membaca biasa dalam waktu 30 menit bisa mendapatkan delapan sampai sepuluh halaman, membaca reflektif bisa hanya tiga sampai lima halaman atau mungkin bisa kurang dari itu. Memang tidak banyak pembaca seperti ini, tapi saya punya teman yang seperti itu, kecendrungannya berfikir radikal dan sistematis membuatnya tidak bisa cepat dalam membaca buku, tapi dia mengerti banyak buku.

Hanya Membaca Sampul

      Masalah yang ketiga sekilas terlihat paling unik, karena ada orang yang membaca hanya sampe sampulnya. Konteks ini bukan ketika ditoko buku ataupun ketika di perpustakaan yang hanya melihat sekilas judul buku, tapi buku tersebut memang dimiliki dan dengan sadar dibeli. Ketika dipesantren ada teman saya yang membeli sebuah buku hadis karangannya imam al-Bukhori, yang dikenal dengan shohih al-Bukhori dengan harga 500 ribu, 4 jilid (seinget saya), dan full berbahasa arab. Buku itu setelah dibeli, dia letakan dirak bukunya, dan hanya beberapa kali dibuka oleh temannya untuk dijadikan refrensi. Kasus seperti itu mungkin banyak terjadi dikalangan santri, termasuk sayapun mengalami hal yang serupa. Beberpa buku saya yang berbahasa arab hanya terpajang di rak dan belum pernah saya baca. Itu karena nasehat dari ustadz-ustadz ketika dipesantren untuk membeli buku sebanyak mungkin sebagai bentuk cinta terhadap ilmu, dan bila kita belum bisa membacanya sampai meninggal, harapannya anak keturunan kita nanti mampu menguasai buku-buku tersebut. 

    Saya sampaikan kembali bahwa tulisan ini hanyalah sebuah sharing pengalaman saya dalam aktivitas membaca buku, tidak ada tendensi apapun didalamnya. Tulisan ini tidak membahas salah-benarnya cara ataupun tipe orang membaca buku, tidak juga membahas baik-buruknya kemampuan memahami seseorang. Ada yang memiliki pengalaman yang sama???, berarti kita satu server . . . .wkwwkwk . . . .

Komentar

  1. Buku hanya sebagian dari bacaan untuk menangkap ilmu dengan menyerapnya,karena kita yang kutu buku disaat kita sedang mempersibukan diri dengan hal yang dimana buku itu seolah-olah hanya barang pajangan saja, oleh karena itu buku sebagai pendambaan kita untuk merenungkan diri ketika sedang membaca kisah yang menemukan jati diri kita

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ekspektasi Rendah

Kebahagiaan Dalam Keabadian