Sintetis Mistik

     oleh : Abdul Rohman

     Alhamdulillah, pujian untuk pencipta, pemilik, dan pemelihara alam semesta. Allahumma shalli wassilm ala Rasulina Muhammad, seorang utusan yang menunjukan pada jalan sebaik-baik peradaban. Beberapa waktu yang lalu jagad maya sempat dihebohkan dengan dengan bergantinya facebook menjadi Meta pada akhir 2021 kemarin, dan setalah itu maraklah perbincangan ataupun ulasan terkait metaverse Sebuah alam digital yang didukung dengan teknologi augmented reality (AR) dan virtual reality (VR), dimana setiap data dan informasi disajikan secara 3D.  diramalkan bahwa pada masa depan nanti manusia mampu menciptakan pengalaman teleportasi secara instan dengan adanya metaverse. Intinya metaverse menunjukan terhadaap perkembangan teknologi yang sangat luar biasa dan masih akan terus berkembang.

     Namun ada hal unik yang muncul ditengah masyarakat kita setelah maraknya perbincangan terkait metaverse, yaitu fenomena spirit doll. Fenomena mengadopsi boneka bayi yang dipercaya didalamnya disemayami arwah bayi, sehingga boneka tersebut dirawat layaknya merawat bayi manusia hidup. Walau sebenarnya fenomena boneka dimasuki arwah bukanlah hal baru di masyarakat kita, dari dulu juga sudah ada, tapi namnya “Jelangkung!”. Hanya saja spirit doll ini berada dikalangan artis dan bentuknya boneka bayi, sedangkan jelangkung berada dimasyarakat desa dan bonekanya hanya terbuat dari kayu dan batok kelapa.

     Fenomena spirit doll membuat saya kembali teringat akan realita, bahwa percaya pada hal yang mistis masih sangat membudaya ditengah masyarakat terlebih di jawa. Seberapapun modernnya seseorang di kota, bila kembali ke desa tetap akan kembali mengikuti ritual adat yang mengandung kepercayaan terhadap hal mistis. Mististik yang hari ini berkembang adalah percampuran dari beberapa budaya, yaitu animise-dinamisme, Hindu-Budha, dan tarekat Islam.

Animisme-dinamisme, Hindu-Budha, dan Tarekat Islam

    Dalam pelajaran sejarah dijelaskan bahwa kepercayaan masyarakaat Indonesia pada mulanya adalah kepercayaan terhadap animisme-dinamisme, diyakini bahwa setiap benda dialam ini memiliki arwah yang memiliki kekuatan supernatural, maka agar para arwah tersebut tetap tenang dan tidak mengganggu kehidupan manusia dilakukan ritual-ritual khusus untuk menenangkannya. Maka akan kita dapati disetiap daerah di Indonesia khususnya di Jawa  memiliki tempat yang dikeramatkan, ada yang masih berlangsung dan ada juga yang sudah menjadi cerita. Tapi benda yang dikeramatkan adalah benda-benda alam seperti pohon, gunung, laut, ataupun batu besar. 

     Kemudian Hindu-Budha masuk ke Indonesia bersama para dewanya, masyarakatpun dikenalkan dengan ritual dan mististik yang baru. Maka munculah nama Brahma-Siwa-Wisnu sebagai mistis baru yang dipercaya oleh msyarakat kita. Kesamaan dengan budaya masyarakat pada saat itu membuat ajaran Hindu-Budha diterima dan berkembang bahkan menjadi bagian dari masyarakat itu sendiri. Selain dikenalkan dengan dewa-dewa, masyarakat juga dikenalkan dengan pusaka-pusaka yang memiliki kekuatan supernatural seperti kris, selendang, tombak, dan tongkat yang juga harus dikeramatkan.

     Dan Islampun masuk ke Indonesia, dengan ajaran tasawuf Islamnya mencoba mengajak masyarakat untuk mengenal Tuhan Yang Esa dan menyucikan jiwa. Ajaran tasawuf tersebut dikalangan masyarakat lebih dikenal dengan tarekat sebuah aktivitas dimana seorang kiyai mengajarkan kepada masyarakat kalimat dzikir untuk senantiasa dibaca agar senantiasa suci jiwanya dan dekat dengan Tuhan Yang Esa. Namun pada perkembanganya ajaran tarekat dipercaya sebagai media teleportasi dan bertemu dengan orang-orang sholeh dimasa lalu, sebagaimana Nabi ketika Isra’ (melakukan perjalan dari Makkah ke palestina bertemu dengan para nabi terdahulu). Pangeran Diponegoro diceritakan juga bertemu dengan orang Ratu Adil dalam meditasinya yang memberinya amanah untuk melakukan perlawanan terhadap colonial karena telah menyebabkan kerusakan, maka terciptalah perang sabil.

Sintetis Mistik

     Setiap ajaran dan keyakinan yang datang tidak mampu menghilangkan ajaran dan keyakinan yang sebelumnya telah tumbuh di masyarakat. Hindu-Budha memang diterima dan berkembang di masyarakat, tapi tidak mampu menghilangkan ritual keyakinan masyarakat terhadap animism-dinamise, dewa Brahma-Siwa-Wisna tidak mampu menggantikaan kepercayaa masyarakat jawa terhadap Nyai Roro Kidul sebagai penguasa pantai selatan. Islam dengan taswafut-tarekatnya juga tidak bisa menghilangkan animism-dinamisme dan Hindu-Budha yang sudah lama membudaya ditengah masyarakat.

     Alih-alih menggantikan atau menghilangkan yang lama, setiap yang baru justru berakulturasi dengan yang sudah ada sehingga memunculkan sintesi mistik yang unik. Sultan Agung yang diceritakan memberi pengaruh besar dalam diterima dan menyebarnya Islam dikerajaan mataram, masih mempercayai sosok Nyai Roro Kidul sebagai penguasa pantai selatan, bahkan diceritakan bahwa Sultan Agung meyakini untuk terciptanya kerajaan yang stabil dan aman, juga harus menjalin komunkasi dengan kerajaan ghoib. Disatu waktu raja jawa bertapa dipantai selatan untuk berkomunikasi dengan penguasanya, diwaktu yang lain ia bermeditasi di singgasananya sembari larut dalam lantunan dzikir untuk bertemu dengan seorang alim agar memberi jalan keluar terhadap masalah yang dihadapinya.

    Dimasa Sulta Hamengkubuwono VIII kota gede pernah diserang oleh penyakit wabah menular yang membuat panic masyarakat dikota tersebut. Mereka yang kaya memilih pergi agar terhindar dari penyakit tersebut, mereka yang miskin terpaksa harus menutup pintu sembari berdoa agar wabag tidak menyerang mereka. Kondsi yang sangat mencekam membuat Sultan Hamengkubuwono dimintai izin agar bersedia mengarak pusaka kerajaan agar wabah segera sirna, maka Sultanpun mengeluarkan Kiyai Tunggal Wuluh dan Kiyai Selamet untuk diarak. Pusaka tersebut dilepas keluar kraton dengan kumandang adzan dan wiridan, kemudia diarak keliling kota Yogyakarta dan diakhiri dengan penyerahan sesajen dan penyembelehan kebo bule betina kepada Waringin Kurung, yaitu pohon beringin besar yang berada di alun-alun utara Yogyakarta.

     Pada kasus diatas kita bisa dengan mudah melihat sintetis mistik tumbuh dalam masyarakat jawa, dan sampai hari inipun kasus yang sejenis dengan yang diatas masih bisa kita temui ditengah masyarakat kita. Sintetis mistik berkembang sampai dengan hari ini, baik ditengah masyarakat pesisir maupun pedesaan. Tapi ada dua golongan masyarakat yang tidak ikut membudayakan sintetis mistik, yaitu umat Islam yang senantiasa kembali pada Qur’an dan Sunnah, dan kaum cendikiawan yang mendsarkan laku masyarakat pada ilmu positive.

   Perkembangan iptek tidak juga menghilangkan  mistisme yang telah lama berlangsung, dapat dicurigai bahwa mistisme adalah sebuah ide awal untuk perwujudan iptek. Sebagaimana kutipan dalam novel Lost Simbol karya Dan Brown “Dewa-dewa zaman dulu adalah kita hari ini”, adalah perkembangan iptek digiring untuk merealisasikan hal mistis. Jika memang begitu, artinya masyarakat Indonesia khususnya jawa adalah masyarakat yang visioner dan imaginer. Tapi masalahnya iptek dikembangkan oleh orang yang tidak mengamini budaya mistissme masyarakat kita. 

      Ok, cukup. Intinya budaya mistis yang hari ini masih menjadi bagian dari masyarakat adalah akulturasi dari beberapa budaya, dan perkembangan teknologi tidak dapat menghilangkan budaya mistis rersebut. 

Komentar

  1. Dengan pergantian suatu media massa yang sangat keren ini ketika mau ada sosial untuk menunjukkan kerennya dalam massa yang tak senilai dengan yang diinginkan demi meretas massa pada sosial tersebut

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ekspektasi Rendah

Kebahagiaan Dalam Keabadian

Saya Membaca, Tapi . . . .